Dakwah Salafiyyah Adalah Dakwah Ahlus Sunnah

Dakwah Salafiyyah Adalah Dakwah Ahlus Sunnah

Oleh: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

DEFINISI SALAF

Menurut bahasa (etimologi), salaf artinya, yang terdahulu (nenek moyang), yang lebih tua dan lebih utama.(Lisaanul ‘Arab VI/331, Ibnu Manzhur). Jadi , Salaf artinya para pendahulu. Jika dikatakan salaf seseorang, maksudnya kedua orang tua yang telah mendahuluinya (al Mufassiruun Bainat Ta’wil wal Itsbaat fii Aayatish Shifat I/11,karya Syaikh Muhammad bin Abdurrahman al Maghrawi).

Adapun menurut istilah (terminologi), kata Salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari ummat islam ini. Mereka adalag para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/masa) pertama yang dimuliakan oleh Allah, sebagimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:

Sebaik-baik manusia adalah pada generasiku ini (yaitu masa para sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa tabi’ut tabi’in). (Muttafaqun ‘alaih).

Menurut Al Qalsyani: “Salafush Shalih adalah generasi pertama dari umat ini, yang pemahaman ilmunya sangat dalam, yang megikuti petunjuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan menjaga Sunnahnya. Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya…” (al Mufassiruun Bainat Ta’wil wal Itsbaat fii Aayatish Shifat I/11).

Syaikh Mahmud Ahmad Khafaji berkata didalam kitabnya, al ‘Aqiidatul Islamiyyah Bainas Salafiyyah wal Mu’tazilah: “ Penetapan istilah salaf tidak cukup dengan hanya dibatasi oleh waktu saja, bahkan harus sesuai dengan al Qur’an dan as Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih (tentang ‘aqidah, manhaj, akhlaq dan suluk, Pent). Barangsiapa yang pendapatnya sesuai dengan al Qur’an dan as Sunnah mengenai ‘aqidah, hukum dan suluknya (perilaku) menurut pemahaman Salaf, maka ia disebut Salafi, meskipun tempatnya jauh dan berbeda masanya. Sebaliknya, barangsiapa pendapatnya menyalahi al Qur’an dan as Sunnah, maka ia bukan seorang Salafi meskipun ia hidup pada zaman sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in (al Mufassiruun Bainat Ta’wil wal Itsbaat fii Aayatish Shifat I/13-14 dan al Wajiiz fii Aqiidah Salafush Shalih hlm 34)

Penisbatan kata Salaf atau as Salafiyyun bukanlah termasuk perkara yang baru atau bid’ah. Akan tetapi, penisbatan ini adalah syar’i, karena menisbatkan diri kepada generasi pertama dari ummat ini, yaitu para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah disebut juga as Salafiyyun, karena mereka mengikuti manhaj Salafush Shalih dari para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Kemudian setiap orang yang mengikuti jejak mereka, serta berjalan berdasarkan manhaj mereka –disepanjang masa-, maka mereka itu disebut Salafi, karena dinisbatkan kepada Salaf.

Jadi, Salaf bukan kelompok atau golongan seperti yang dipahami oleh sebagian orang. Tetapi salaf adalah manhaj. Yaitu sistem hidup dalam beraqidah, berhukum, berakhlak dan lainnya, yang wajib diikuti oleh setiap muslim. Pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan ‘aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabat sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan. (Mauqif Ahlis Sunnah waj Jamaa’ah Ahlil Ahwaa’ wal Bida’ I/63-64, karya Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir ar Ruhaili; Bashaa-iru Dzawi Syaraf bi Syarah Marwiyyati Manhajis Salaf hlm 21, karya Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali dan Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah fil Aqiidah.)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th.728H) berkata: “Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan manhaj Salaf dan menisbatkan dirinya kepada Salaf. Bahkan (ia) wajib menerima yg demikian itu, karena manhaj Salaf tidak lain kecuali kebenaran.” (Majmu’ Fatawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah IV/149).

DEFINISI AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabatnya. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba’ (mengikuti) Sunnah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabatnya.

As Sunnah menurut bahasa (etimologi) adalah jalan atau cara, apakah jalan itu baik atau buruk (Lisaanul ‘Arab VI/399). Sedangkan menurut ulama ‘aqidah (terminologi), as Sunnah adalah petunjukan yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Demikian inilah as Sunnah yang wajib diikuti. Orang yang mengikutinya akan dipuji, dan orang yang menyelisihinya akan dicela. (Buhuuts fii ‘Aqidah Ahlis Sunnah hlm 16).

Pengertian as Sunnah menurut Ibnu Rajab al Hanbali (wafat 795 H):”As Sunnah adalah jalan yang ditempuh, mencakup didalamnya berpegang teguh kepada apa yang dilaksanakan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para khalifahnya yang terpimpin dan lurus, berupa i’tiqad (keyakinan), perkataan dan perbuatan. Itulah as Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu, generasi Salaf terdahulu tidak menamakan as Sunnah , kecuali kepada apa saja yang mencakup ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari Imam Hasan al Bashri (wafat th. 110 H), Imam al Auza’i (wafat th 157 H) dan Imam Fudhail bin ‘Iyadh (wafat th 187 H) “ (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam, oleh Ibnu Rajab hlm 495, tahqiq dan ta’liq Thariq bin ‘Awadhullah bin Muhammad)

Disebut al Jama’ah, karena mereka bersatu di atas kebenaran. Tidak mau berpecah belah dalam urusan agama, berkumpul dibawah kepemimpinan para imam (yg berpegang kepada) al haq (kebenaran), tidak mau keluar dari jama’ah mereka, dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan Salaful Ummah. (Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah fil Aqiidah).

Jama’ah menurut ulama ‘aqidah (terminologi) adalah, generasi pertama dari ummat ini. Yaitu kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan hingga hari Kiamat, karena berkumpul di atas kebenaran. (Syarhul ‘Aqidah al Waasithiyyah, oleh Khalil Hirras hlm 61)

Imam Abu Syammah asy Syafi’i (wafat th. 665 H) berkata: “Perintah untuk berpegang kepada jama’ah, maksudnya adalah, berpegang kepada kebenaran dan mengikutinya; meskipun yang melaksanakan Sunnah itu sedikit dan yang menyelisihinya banyak. Karena kebenaran itu ialah, apa yang dilaksanakan oleh jama’ah yang pertama, yaitu yang diamalkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabatnya, tanpa melihat kepada orang-orang yang menyimpang sesudah mereka”.

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud :

Al Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian”.

(Al Baa’its ‘alaa Inkaaril Bida’ wal Hawaadist hlm 91-92, tahqiq oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Salman dan Syarah Ushuulil I’tiqaad, karya al Lalika-i no 160)

Jadi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang yang mempunyai sifat dan karakter mengikuti Sunnah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dan menjauhi perkara-perkara yang baru dan bid’ah dalam masalah agama. Karena mereka, orang-orang yang ittiba’ kepada sunnah Rasulullah dan mengikuti atsar (jejak Salaful Ummah), maka mereka itu juga disebut dengan Ahlul Hadist, Ahlul Atsar dan Ahlul Ittiba’. Disamping itu, mereka juga disebut sebagai ath Thaaifatul Manshuurah (golongan yang mendapatkan pertolongan Allah), al Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat), Ghurabaa’ (orang yang asing).

Tentang ath Thaaifatul Manshurah, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang selalu menegakkan perintah Allah; tidak akan mencelakai mereka, orang yang tidak menolong mereka dan orang yang menyelisihi mereka, sampai datang perintah Allah dan mereka tetap diatas yang demikian itu”.(HR Bukhari dan Muslim)

Tentang al Ghurabaa’, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Islam awalnya asing, dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya; maka beruntunglah bagi al Ghurabaa’ (orang-orang asing)”. (HR.Muslim)

Sedangkan makna al Ghurabaa’ ialah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash; ketika suatu hari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menerangkan tentang makna dari al Ghurabaa’. Beliau bersabda:

Orang-orang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek; orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang mentaati mereka”. (HR. Ahmad, Ibnu Wadhdhah)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga bersabda mengenai makna al Ghurabaa’:

Yaitu, orang-orang yang senantiasa memperbaiki (ummat) di tengah-tengah rusaknya manusia”. (HR. Abu Ja’far ath Thahawi dalam Syarah Musykilil Aatsaar II/170 no 689, al Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqad Ahlis Sunnah no 173)

Dalam riwayat yang lain disebutkan:

Yaitu orang-orang yang memperbaiki Sunnahku (sunnah Rasulullah) sepeninggalku sesudah dirusak oleh manusia”. (HR. at Tirmidzi)

Ahlus Sunnah, ath Thaifah al Manshurah dan al Firqatun Najiyah semuanya disebut Ahlul Hadist. Penyebutan ini sudah masyhur dan dikenal sejak generasi Salaf. Karena penyebutan itu merupakan tuntutan nsh, dan sesuai dengan kondisi serta kenyataan yang ada. Hal ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari para imam, seperti Abdullah Ibnul Mubarak, ‘Ali Ibnul Madini, Ahmad bin Hanbal, al Bukhari, Ahmad bin Sinan dan yang lainnya. (Sunan at Tirmidzi:Kitaabul Fitan, lihat Silsilatul Ahaadiits ash Shahiihah karya Imam Muhammad Nashiruddin al Albani, dan Ahlul Hadist Humuth Thaaifah al Manshurah karya Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi al Madkhali)

Imam asy Syafi’i (wafat th. 204) berkata:

“Apabila aku melihat seorang ahli hadist, seolah-olah aku melihat seorang dari sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam; mudah-mudahan Allah memberikan ganjaran yang terbaik kepada mereka. Mereka telah menjaga pokok-pokok agama untuk kita, dan wajib bagi kita berterima kasih atas usaha mereka”. (Siyar A’laamin Nubalaa’ X/60).

Imam Ibnu Hazm azh Zhahiri (wafat th. 456 H) menjelaskan mengenai Ahlus Sunnah: “Ahlus Sunnah yang kami sebutkan itu adalah ahlul haq, sedangkan selain mereka adalah Ahlul Bid’ah. Karena sesungguhnya Ahlus Sunnah itu adalah para sahabat dan setiap orang yang mengikuti manhaj mereka dari para tabi’in yang terpilih, kemudian ash haabul hadist dan yang mengikuti mereka dari ahli fiqih dari setiap generasi sampai pada masa kita ini serta orang-orang awam yang mengikuti mereka baik di timur maupun di barat.” (Al Fishal fil Milal wal Ahwaa’ wan Nihal II/271).

SEJARAH MUNCULNYA AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Penamaan istilah Ahlus Sunnah ini, sudah ada sejak generasi pertama Islam pada kurun yang dimuliakan Allah, yaitu generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Ketika menafsiri firman Allah:

ayat.jpg

Pada hari yang diwaktu itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu”. (QS. Ali Imran :106)

Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma berkata: “Adapun orang yg putih wajahnya, mereka adalah Ahlus Sunnah waj Jama’ah; sedangkan orang yang hitam wajahnya, mereka adalah Ahlul Bid’ah dan sesat”. (Tafsir Ibnu Kasir I/419,cet.Darus Salam, Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah waj Jama’ah I/79 no 74)

Kemudian istilah Ahlus Sunnah ini diikuti oleh kebanyakan ulama Salaf, diantaranya:

1. Ayyub as Sikhtiyani (wafat th. 131 H), ia berkata: “Apabila aku diberitahu tentang meninggalnya seseorang dari Ahlus Sunnah, (maka) seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku”.

2. Sufyan ats Tsauriy (wafat th. 161 H) berkata:”Aku wasiatkan kalian untuk tetap berpegang kepada Ahlus Sunnah dengan baik, karena mereka adalah al Ghurabaa’. Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah waj Jama’ah”. (Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah I/71 no 49 dan 50).

3. Fudhail bin ‘Iyadh (wafat th. 187 H) berkata: “…Berkata Ahlus Sunnah: ‘Iman itu keyakinan, perkataan dan perbuatan’.”

4. Abu ‘Ubaid al Qasim bin Sallam (hidup th. 157-224 H) berkata dalam muqaddimah kitabnya, al-limaan (tahqiq dan takhrij Syaikh Al Albani): “…Maka sesungguhnya, apabila engkau bertanya kepadaku tentang iman, perselisihan umat tentang kesempurnaan iman, bertambah dan berkurangnya iman, dan engkau menyebutkan seolah-olah engkau berkeinginan sekali untuk mengetahui tentang iman menurut Ahlus Sunnah dari yang demikian…”

5. Imam Ahmad bin Hanbal (hidup th. 164-242 H), beliau berkata dalam muqaddimah kitabnya, as Sunnah: “Inilah madzhab ahlul ‘ilmi, ash haabul atsar dan AHlus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabatnya semenjak dari zaman para sahabat hingga pada masa sekarang ini…”

6. Imam Ibnu Jarir ath Thabari (wafat th. 310 H) berkata: “…Adapun yang benar dari perkataan tentang keyakinan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah pada hari Kiamat; maka itu merupakan agama, yang kami beragama dengannya. Dan kami mengetahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa, penghuni surga akan melihat Allah sesuai dengan berita yang shahih dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. (Shariihus Sunnah oleh Imam ath Thabary).

7. Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad ath Thahawi (hidup th. 239-321 H). Beliau berkata dalam muqoddimah kitab ‘aqidahnya yang masyhur (al ‘Aqiidatuht Thahaawiyyah) : “…Ini adalah penjelasan tentang aqidah Ahlus sunnah wal Jama’ah.”

Dengan penukilan tersebut, maka jelaslah bagi kita bahwa lafadz Ahlus Sunnah sudah dikenal dikalangan Salaf (generasi awal umat ini) dan para ulama sesudahnya. Istilah Ahlus Sunnah merupakan istilah yang mutlak sebagai lawan kata AHlul Bid’ah. Para Ulama Ahlus Sunnah menulis penjelasan tentang aqidah Ahlus Sunnah, agar umat paham tentang aqidah yg benar dan untuk membedakan antara mereka dengan ahlul Bid’ah. Sebagaimana telah dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al Barbahari, Imam ath Thahawi serta yang lainnya.

Di kutip dari Majalah As Sunnah Edisi 11/X/1428 H/2007 M

Download PDF

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: