Manhaj Dakwah Ahlus Sunnah

Manhaj Dakwah Ahlus Sunnah

Oleh: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

 

Yang dimaksud dengan dakwah (mengajak manusia ke jalan Allah), yaitu mengajak manusia untuk beriman kepada Allah, mengimani apa yang dibawa para Rasul-Nya, membenarkan apa yang mereka kabarkan kepada manusia, mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa pada bulan Ramadhan, haji ke Baitullah, mengajak manusia untuk beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, beriman kepada hari Akhir (dibangkitkannya manusia sesudah mati), iman kepada Qadar yang baik dan buruk, dan mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allah saja seolah-olah dia melihat-Nya. (Majmuu’ Fataawaa XV/157-158, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)

Jadi, yang dimaksud dakwah adalah mengajak manusia kepada rukun Islan, rukun Iman, dan melaksanakan syari’at Islam, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang manusia dari perbuatan syirik, mengajak umat untuk ittiba’ (meneladani Rasulullah) dan melarang berbuat bid’ah. Mengajak manusia ke jalan yang benar, agar manusia selamat di dunia dan akhirat, yakni dengan mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabat.

Dakwah di jalan Allah merupakan sebesar-besar ketaatan kepada Allah. Dan perkataan yang paling baik adalah mengajak manusia ke jalan Allah dan beramal shalih. Allah Ta’ala berfirman:

ayat1.jpg

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’”. (QS. Fushshilat:33).

A. Dakwah Yang Haq Harus Dengan Bekal Ilmu Syar’i

Sesungguhnya orang yang memperhatikan perjalanan para ulama AHli Hadist pada masa-masa yang telah lewat, ia akan melihat bahwa para ulama Ahli Hadist telah mengikuti metode yang sama dalam berdakwah menuju Allah diatas cahaya dan bashirah (ilmu dan keyakinan). Allah berfirman:

ayat2.jpg

Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidak ada termasuk orang-orang yang musyrik’”. (QS. Yusuf:108)

Yaitu meliputi metode ilmu, belajar dan mengajar. Karena sesungguhnya, apabila dakwah menuju Allah merupakan kedudukan yang paling mulia dan utama bagi seorang hamba, maka hal itu tidak akan terjadi kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu, seseorang dapat berdakwah dan kepada ilmu pula ia berdakwah. Bahkan demi sempurnanya dakwah, ilmu itu harus dicapai sampai batas usaha yang maksimal. (Miftaah Daaris Sa’aadah I/476, ta’liq dan takhrij Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid)

Syarat seseorang berdakwah harus berilmu dan faham tentang ilmu syar’i, yang dengan ilmunya tersebut, ia dapat mengajak umat kepada agama Islam yang benar. Metode ilmiah ini dibangun diatas tiga dasar (At Tasyfiyah wat Tarbiyah wa Aatsaaruhuma fii Isti’naafil Hayaatil Islaamiyyah hlm 12, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi). Pertama, al ‘Ilmu. Yaitu mengetahui al haq (kebenaran). Kedua, dakwah menuju al haq (mengajak manusia kepada kebenaran). Ketiga, teguh dan istiqamah diatas kebenaran. Firman Allah Ta’ala:

ayat3.jpg

Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi”. (QS. al Fath:28)

Yang dimaksud denga petunjukan ialah ilmuyang bermanfaat, dan agama yang benar ialah amal shalih. Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan, menjelaskan tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, hukum-hukum dan berita yang datang dari-Nya, memerintahkan semua yang bermanfaat untuk hati, ruh dan jasad. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah, mencintai-Nya, berakhlak dengan akhlak yang mulia, beramal shalih, beradab dengan adab yang bermanfaat. Belia Shalallahu ‘Alaihi Wassalam melarang perbuatan syirik, perlaku dan akhlak buruk yang berbahaya untuk hati dan badan, dunia dan akhirat. (Tafsiir Kariimir Rahmaan fii Tafsiir Kalaamil Mannaan, oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di)

B. Ahlus Sunnah Berdakwah (Mengajak Manusia) ke Jalan Allah Dengan Hikmah

Firman Allah Ta’ala:

ayat4.jpg

Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS an Nahl:125)

Ayat yang mulia diatas merupakan asas yang mengajarkan jalan menuju Allah, dan mengajarkan kepada para da’i, jalan dalam berdakwah. Karena sesunguhnya, Allah telah mensyari’atkan kepada para hamba-Nya melalui Kitab-Nya yang Dia turunkan, dan dengan penjelasan Rasul-Nya Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam perkara-perkara yang dapat memberikan penerangan untuk akal mereka, kesucian jiwa dan kelurusan perbuatan mereka.

Allah telah menamakan (syari’at itu) dengan sabil (jalan), supaya mereka tetap konsisten dalam seluruh fase perjalanan dalam menempuh kehidupan ini; sehingga dapat mengantarkan kepada puncak yang dituju, yaitu kebehagiaan abadi di akhirat. Dan Dia merangkaikan sabil itu dengan Diri-Nya, sehingga disebut sabilillah (dijalan Allah), supaya para hamba mengetahui, Dia-lah yang telah menbuatnya dan tidak ada sesuatu pun yang dapat mengantarkan menuju ridha-Nya selain jalan Allah.

Ayat diatas, pada asalnya menrupakan friman Allah yang ditujukan kepada Nabi pilihan-Nya Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan Nabi-Nya Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk berdakwah menuju jalan Rabb-nya. Dan beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah al Amiin (yang terjaga dari dosa), sehingga tidaklah beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam meninggalkan sesuatu diantara jalan Rabb-nya, kecuali beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah mendakwakannya. Dengan demikian kita mengetahui, apa saja yang tidak diserukan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, maka hal itu bukan termasuk jalan Allah Ta’ala. Sehingga kitapun mendapatkan petunjuk tentang perbedaan antara al haq dengan al bathil, petunjuk dengan kesesatan, serta antara da’i-da’i Allah dengan da’i-da’i setan.

Oleh karena itu, barangsiapa yang menyeru kepada apa yang diserukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, berarti ia termasuk da’i-da’i Allah, yang menyeru kepada al haq dan hidayah. (ini yang dikatakan “hikmah” dalam dakwah, yaitu berdakwah mengikuti contoh Rasulullah dalam mengajak manusia ke jalan Allah berdasarkan al Qur’an danas Sunnah). Dan barangsiapa yang menyeru kepada apa yang tidak diserukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, maka ia termausk da’i – da’i setan, yang menyeru kepada kebatilan dan kesesatan. Sehingga, seorang muslim yang mengikuti Rasullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, ia akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk mendakwahkan setiap yang ia ketahui dari jalan Rabb-nya. Dan jika setiap individu dari kalangan kaum muslimin menjalankan dakwah ini sesuai dengan kemampuannya, maka akan teranglah jalan Allah bagi orang-orang yang menempuhnya, ilmu akan tersebar di kalangan kaum muslimin. Adapun jalan-jalan kebhatilan, akan sepi dari da’i-da’i setan. (Ad-Durar al Ghaaliyah fii Aadabid Da’wah wad Daa’iyyah, oleh al ‘Allamah Syaikh ‘Abdul Hamid Baadais, ta’liq oleh Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid).

Kewajiban terbesar yang wajib ditempuh oleh para da’i, ustadz dan ulama, yaitu meniti manhaj para Nabi dalam berdakwah menuju Allah. Berdasarkan tinjauan dari sudit agama dan akal, maka seorang da’i tidak boleh menyimpang dari manhaj dakwah anbiyaa’, lalu memilih manhaj dakwah lai, karena:

1. Manhaj para Nabi adalah jalan yang paling lurus yang ditetapkan Allah kepada seluruh nabi, dari yang pertama sampai terakhir.

2. Sesungguhnya para nabi benar-benar telah berpegang teguh dan mempraktekkan manhaj tersebut. Hal itu jelas menunjukkan kepada kita, bahwa masalah manhaj bukan termasuk masalah ijtihad (bukan berasal dari pemikiran).

3. Allah telah mewajibkan kepada Rasul-Nya yang mulia Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk meneladani dan menempuh manhaj para nabi tersebut, dan kita wajib mengikuti Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

4. Karena kesempurnaan konsep dakwah para nabi tergambar dalam dakwah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, maka Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk mengikuti manhaj Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam. Allah Ta’ala juga memerintahkan umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam yang hanif. (QS. al Baqarah:130, Ali Imran:68,95, an Nisaa:125, an Nahl:123). Allah Ta’ala berfirman:

ayat5.jpg

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an Nisaa:59)

Jika kita kembali kepada al Qur’an, sesunggunya Allah telah memberitahukan kepada kita, bahwa aqidah seluruh rasul adalah tauhid. Adapun dakwah mereka, dimulai dengan tauhidullah, dan tauhid merupakan perkara terpenting dan terbesar yang mereka dakwahkan.

5. Allah telah menciptakan alam ini, menyusunnya dengan sangat rapi, dan menjadikan ketetapan-ketetapan bagi ala mini. Seandainya ketetapan-ketetapan alam itu berbeda-beda, niscaya rusaklah alam ini. Begitu pula dalam hal Syari’at, ia tidaklah tegak kecuali diatas aqidah yang haq. Jika syar’at telah lepas dari aqidah, maka rusaklah syari’at tersebut, sehingga tidak lagi sebagai syari’at yang benar.

Jelaslah bahwa hubungan aqidah tauhid terhadap seluruh syari’at para nabi (termasuk Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam), bagaikan pondasi sebuah bangunan dan bagaikan ruh bagi badan. Jasad tidak akan berdiri dan hidup, kecuali dengan adanya ruh.

Untuk menambah pemahaman kita terhadap Sunnatullah yang disyari’atkan, berikut kami bawakan tiga contoh. Bahwa pengaturan dan ketertiban dalam syari’at-Nya merupakan perkara yang dijadikan tujuan, sehingga wajib diikuti dan tidak boleh menyimpang dari hal-hal berikut:

1. Shalat

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah mengajarkan shalat kepada kita dengan perbuatan yang nyata. Andaikan ada sekelompok orang yang mengubah tata cara shalat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, maka apakah shalatnya itu benar dan bersesuaian dengan syari’at Islam?

2. Haji

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah menegrjakan haji dan mengajarkan manusia tentang manasik haji. Maka jika ada jama’ah yang menghendaki adanya perubahan terkait dengan manasik haji, maka apakah hajinya tersebut dibenarkan oleh Islam atau justru merusak ibadah haji?

3. Dakwah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memulai dakwahnya dengan tauhid, dan demikian pula seluruh rasul. Allah Ta’ala berfirman:

ayat6.jpg

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu, maka di antara umat itu ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antara orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).’” (QS. an Nahl:36)

Diantara contohnya, yaitu sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu ketika diutus ke Yaman. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab, maka ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. (Pada lafadz lainnya: Maka yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka adalah beribadah kepada Allah semata). (Juga pada lafadz lainnya: Supaya mereka menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang berhak diibadahi). Apabila mereka mentaatimu karena yang demikian itu (dalam suatu riwayat: Apabila mereka telah mentauhidkan Allah), maka beritahukanlah kepada mereka, sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka mentaatimu karena yang demikian itu, maka beritahukanlah kepada mereka, sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas mereka shadaqah yang diambil dari orang-orang yang kaya di antara mereka, lalu dibagikan kepada orang-orang yang miskin diantara mereka. Jika mereka mentaatimu karena yang demikian itu, maka jauhilah olehmu harta-harta mereka yang baik dan takutlah kamu terhadap do’a orang yang dizhalimi, karena tidak ada hijab antara do’a orang yang dizhalimi dengan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kita faham, mengikuti ketetapan Allah yang berkaitan dengan syari’at dan aturannya yang detail dalam peribadatan serta perinciannya adalah wajib, tetapi mengapa kita tidak memahami ketetapan Allah dan atruran-Nya yang detail dalam masalah dakwah? Padahal para nabi, meniti jalan yang satu. Kita tidak boleh berpaling dari manhaj dakwah yang dicontohkan oleh para nabi dan tidak boleh menyelisihinya. Sebab, apabila menyalahi manhaj dakwah para nabi, akan berakibat sangat fatal. Para da’i wajib menggunakan kembali akal mereka dan mengubah sikap mereka.

Kemudian apakah umat Islam (khususnya para da’i) mengambil manfaat dari manhaj yang agung ini dalam memberikan perhatian tentang masalah-masalah tauhid dan menjadikannya sebagai titik tolak dakwah mereka? Jawabannya, sesungguhnya sebagian besar da’i dan ustadz telah menyimpang jauh dari manhaj para nabi dalam berdakwah, sehingga umat Islam mengalami kondisi yang menyedihkan dan pahit, akibat kekeliruan dari dakwah yang mereka lakukan.

Sesungguhnya banyak di antara umat Islam (termasuk da’i, kyai dan pemikirnya, Pen) jahil terhadap manhaj ini, dan sebagian lagi pura-pura bodoh. Mereka dihalang-halangi oleh setan dari manhaj yang haq ini, kemudian mereka membuat manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj dakwaha para nabi. Hal ini menjerumuskan mereka dan menyebabkan mereka tertimpa bencana di dalam agama dan dunianya. (disadur secara ringkas dari Manhajul Anbiyaa’ fid Da’wah Ilallaah fiihil Hikmah wal ‘Aql, oleh Dr. Rabi’ bin Hadi al Madkhaliy hlm 123-132 dan at Tashfiyah wat Tarbiyah wa Aatsaaruhuma fii Isti’naafil Hayaatil Islaamiyyah, oleh Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari hlm 71-80)

Di kutip dari majalah As Sunnah Edisi 11/X/1428 H/2007 M

Download PDF

Satu Tanggapan

  1. askm….

    saya lagi binggung…

    tentang dalil yang membolehkan untu berpartai…
    karena bukankan dengan berpartai berarti kita telah membuat sebuah kumpulan…
    nah sekarang kalau kita membuatkumpulan berarti ada terjadi pemecahan ummat dong…

    satu partai mengatakan kalau partainya benar dan bagus begitu juga dengan partai lainnya…

    bagaimana menurut pandangan Islam… tentang hal ini

    berikan keterangan berserta dalilnya…
    terimakasih askm….

    Unjuk jawabannya,..silahkan antum membuka blogs Al Akh Abu Salma dengan judul artikel Hukum Berbilangnya Jama’ah dan Partai dan bisa melihat juga di situs http://www.almanhaj.or.id di bagian Demokrasi dan Politik. Semoga bermanfa’at. Barokallahu fiik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: