Sebagian Diantara Prinsip Dakwah Ahlus Sunnah

Sebagian Diantara Prinsip Dakwah Ahlus Sunnah

Oleh: Al Ustadz Yazid bin Abdur Qadir Jawas

1. AHLUS SUNNAH MENGAJAK MANUSIA MENTAUHIDKAN ALLAH DAN MENJAUHI PERBUATAN SYIRIK.

Para da’i harus memulai dakwahnya dengaan mengajak kepada tauhid, karena itu merupakan dakwah yang paling utama dan paling mulia. Dakwah tauhid, berarti mengajak kepada derajat keimanan yang paling tinggi. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:

Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang atau lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi ialah perkataan “Laa ilaaha illallaah”, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan duri(rintangan) dari jalan; dan malu adalah salah satu cabang iman.” (HR. Bukhari, Muslim. Lafadz ini milik Muslim dari Sahabat Abu Hurairah).

Imam an Nawawi rahimahullah berkata :”Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah mengingatkan, bahwasanya cabang-cabang keimanan lainnya tidak akan sah dan tidak diterima, kecuali setelah sahnya cabang yang paling utama ini (tauhid)”.

Berdasarkan apa yang telah disebutkan diatas, maka semua gerakan dakwah yang berdiri tegak diatas dakwaan dan simbol ishlah (perbaikan), namun tidak memfokuskan perhatian dan tidak bertolak dari upaya perbaikan tauhid, tentunya akan terjadi penyelewengan dan penyimpangan seiring dengan jauhnya dari poko-poko yang sangat penting ini. Sebagaimana perbuatan orang-orang itu telah menghabiskan usia mereka dalam memperbaiki mu’amalah antara manusia, namun mu’amalah mereka terhadap al Khaliq (Allah) atau aqidah mereka terhadap-Nya menyimpang jauh dari petunjuk Salafush Shalih. Sama halnya dengan mereka yang telah menghabiskan umurnya dalam upaya menempati dan menduduki sistem pemerintahan, dengan harapan akan mampu mengadakan perbaikan pada manusia melalui jalur tersebut, atau dengan mengadakan berbagai kegiatan politik untuk mengejar dan meraih kekuasaan, namun demikian, mereka tidak menaruh perhatian untuk memperbaiki kerusakan aqidah mereka dan kerusakan aqidah orang-orang yang menjadi objek dakwah mereka.

Peran aqidah dalam kehidupan amat penting, sehingga Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam selalu menekankan kepada para da’i, agar senantiasa mencurahkan perhatian kepada aqidah dan mengawali dakwahnya dengan aqidah seperti yang tercantum dalam hadist Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu. Ada sebagian orang merasa heran dan aneh dengan diprioritaskannya dakwah kepada tauhid. Keheranan tersebut kami jawab:”Bukankah hak Allah berupa pengesaan di dalam beribadah merupakan sesuatu yang paling berhak mendapatkan perhatian dan paling berhak untuk sering diucapkan oleh lisan manusia? Tauhid adalah hak Allah yang murni, maka bagaimana mungkin dianggap sebagai masalah yang kecil dan remeh oleh para pelopor gerakan-gerakan dan manhaj-manhaj dakwah zaman ini? Bukankah tauhid inilah yang paling utama untuk dibukakan baginya pintu-pintu dan dilapangkan baginya tempat-tempat dan kesempatan?”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan: “ Tauhid adalah kunci pembuka dakwah para rasul,” kemudian beliau menyebutkan tentang hadist Mu’adz yang telah disebutkan sebelumnya (dlm artikel Manhaj Dakwah Ahlus Sunnah). (lihat Madarijus Salikin III/462, cet, Darul Hadits)

Walaupun kondisi dan problematika umat berbeda-beda, namun yang tetap menjadi prioritas dalam dakwah adalah mengajak manusia kepada tauhid. Sama saja halnya, apakah problem mereka dibidang perekonomian sebagaimana yang dihadapi oleh kaum Madyan, ataupun problem demoralisasi (kebobrokan moral) seperti yang terjadi pada kaum Nabi Luth ‘Alaihis Salam. Penulis tidak perlu menyebutkan:”Atau problem yang dihadapi mereka adalah krisis politik,” karena semua umat dan bangsa yang tersebut pada ayat-ayat diatas, belum diberlakukan pada mereka hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah.

Cahaya dakwah tauhid yang diberkahi ini, sekali-kali tidak boleh padam sesaat pun, hanya dengan dalih demi kestabilan dan kemantapan tauhid pada hati manusia. Meskipun kesadaran dan sambutan umat terhadap tauhid telah mencapai kesempurnaan, namun demikian, pasti terdapat kekurangan pada diri manusia. Kekurangan yang paling jelek ialah kekurangan dalam keikhlasan dan lenyapnya keyakinan tauhid. Oleh karena itu, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tidak tinggal diam, beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam senantiasa menyebut kejelekan perbuatan syirik, hingga pada hari-hari terakhir kehidupan beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam didunia ini. Padahal kondisi umat pada sat itu telah mencapai puncak kekuatannya dalam bertauhid kepada Rabb-nya, dan mereka berada pada satu barisan. (Disadur dari Sittu Durar min Ushul Ahlil Atsar, Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani; at Tauhid Awwalan yaa Du’aatal Islam, oleh Syaikh Muhammad Nashirudin al Albani; al Aqidah Awwalan lau Kaanu Ya’lamun,oleh Dr. Abdul Aziz al Qaari; Manhajul Anbiyaa’ fid Da’wah ilallah fiihil Hikmah wal ‘Aql, oleh Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi al madkhali

2. AHLUS SUNNAH MENGAJAK UMMAT ISLAM UNTUK BERPEGANG TEGUH KEPADA SUNNAH-SUNNAH NABI, MENGAMALKAN DAN MENGHIDUPKANNYA, SERTA MELARANG DARI PERBUATAN BID’AH, KARENA SETIAP BID’AH ADALAH SESAT, DAN SETIAP KESESATAN TEMPATNY DI NERAKA

Dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu anhu berkata:

Suatu hari, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberi kami nasehat dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar. Maka seseorang berkata:’Wahai Rasulullah,Nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat,’ Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: ‘Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup diantara kalian setelahku, ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah itu adalah sesat.’” (HR.Ahmad, Abu Dawud, at Tirmidzi,ad Darimy, al Baghawiy, al Hakim).

3. AHLUS SUNNAH MENYURUH KEPADA YANG MA’RUF DAN MENCEGAH YANG MUNKAR MENURUT KETENTUAN SYARI’AT

Definisi ma’ruf, menurut penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, ialah suatu nama yang mencakup apa-apa yang dicintai Allah dari perkara iman dan amal shalih. Adapun munkar yaitu suatu nama yang mencakup bagi setiap apa-apa yang tidak disukai Allah dan yang dilarang-Nya. (lihat Iqtidhaa’ush Shiraatil Mustaqiim, ta’liq Dr. Nashir bin Abdul Karim al ‘Aql)

Allah Ta’ala berfirman:

ayat11.jpg

Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, ,menyuruh kepada yang ma’ruf dan ,mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS.Ali Imran:110)

ayat21.jpg

Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran:104)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia berubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka lakukanlah dengan lisannya. Dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, at Tirmidzi, an Nasa’i dan Ibnu Majah, dari sahabat Abu Sa’id al Khudriy).

Hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu kifayah (Majmu Fatawa XXVIII/134, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah), dan pelakunya harus memenuhi ketentuan berikut ini:

1. Berilmu

Firman Allah Ta’ala:

ayat31.jpg

“Katakanlah:’Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjan yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.’” (QS. Yusuf:108)

2. Lemah Lembut

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Sesungguhnya adanya kelemah-lembutan pada sesuatu, pasti akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut (kelemah-lembutan), melainkan akan mencemarkan sesuatu itu.” (HR. Muslim, dari ‘Aisyah)

Dakwah salaf terkenal dengan dakwah yang lemah lembut, bukan keras dan kasar. Mereka adalah orang yang mengetahui tentang kebenaran dan saying kepada makhluk. Mereka tegas dan berani dalam menyampaikan kebenaran. Terkadang, karena sikap tegas dalam kebenaran inilah yang menyebabkan dakwah salaf dituduh sebagai dakwah yang keras, kaku, kasar, dan lainnya. Padahal, dengan ketegasan dalam kebenaran, banyak ummat yang menjadi paham tentang Islam, mendapat hidayah dari Allah. Dasar dakwah ini adalah lemah-lembut dan kasih saying sesame kaum Mukminin dank eras kepada orang-orang kafir.

3. Sabar

Firman Allah Ta’ala:

ayat41.jpg

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang munkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Luqman:17)

ayat51.jpg

“Sabarlah kamu dari apa-apa yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Muzammil:10)

4. Ada kemampuan dan kekuasaan. (lihat adh Dhawaabitul Amr bil Ma’ruf wan Nahyi ‘anil Munkar ‘inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, oleh Syaikh Ali bin Hasan al Halabi)

5. Harus ikhlas semata-mata karena Allah.

Amar ma’uf dan nahi munkar adalah amal yang wajib, paling utama dan paling baik. (lihat Majmu’ Fatawa XXVIII/134, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)

4. AHLUS SUNNAH MENGAJAK KEPADA PERSATUAN KAUM MUSLIMIN

Sering orang –orang yang tidak senang kepada persatuan ini mengatakan, dakwah salaf membuat umat terpecah belah, saling bermusuhan, dan tuduhan-tuduhan lainnya. Tuduhan mereka tidak benar, tetapi justru merekalah yang membuat perpecahan. Karena dakwah Ahlus Sunnah mengajak kepada persatuan kaum muslimin dan melarang berpecah-belah , sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ayat61.jpg

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..” (QS.Ali Imran:103)

Allah Ta’ala berfirman:

ayat71.jpg

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS.Ali Imran:105)

ayat81.jpg

Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. ar Ruum:31-32)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Berjama’ah adalah rahmat, sedangkan berpecah-belah adalah adzab.”(HR. Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim, dari sahabat an Nu’man bin Basyir)

Demikianlah, bahwasanya Ahlus Sunnah tidak menyeru kepada perkara-perkara yang dapat memecah-belah persatuan kaum Muslimin. Akan tetapi, Ahlus Sunnah mengajak kepada persatuan yang dilandasi dengan al Qur’an dan as Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, bukan persatuan yang semu dan sesat. Adapun persatuan yang dikehendaki tersebut, yaitu persatuan menurut pemahaman ulama Salaf dan orang-orang yang mengikuti manhaj (pedoman) mereka, bukan menurut pemahaman pengikut hawa nafsu dan hizbiyyah.

Lafadz hizb, ditinjau dari aspek bahasa, memiliki beberapa makna, Al Fairuz Abadi dalam Bashaa-iru Dzawit-Tamyiizi (II/457) mengatakan, al hizb adalah kelompok (golongan). Al ahzaab adalah kumpulan orang-orang yang bersekutu memerangi para nabi. Dan menurut al Qur’an, lafazh al hizb ini memiliki beberapa sudut pandang:

1. Bermakna bebepara golongan yang berada dalam perbedaan pandangan, syari’at dan agama. setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. (QS. ar Ruum:32)

2. Bermakna tentara setan. (QS. Mujaadilah:19)

3. Bermakna tentara Allah. (QS. Mujaadilah:22)

4. Mereka di dunia adalah sebagai pemenang. (QS. al Maidah:56)

5. Akibat (balasan) bagi mereka adalah sebagai pemenang yang beruntung.

Syaikh Shafiyur Rahman al Mubarakfuriy berkata: “Al hizb, secara bahasa adalah golongan (kumpulan) dari manusia; berkumpulnya manusia karena adanya sifat yang bersekutu atau kemashlahatan yang menyeluruh. Mereka terikat oleh ikatan aqidah dan iman, atau ikatan kekufuran, kefasikan, kemaksiatan, atau terikat karena (adanya perasaan) kebangsaan dan setanah air, atau (ikatan) nasab (keturunan), pekerjaan, bahasa, atau apa-apa yang serupa dg ikatan-ikatan tersebut, kriteria, kemaslahatannya yg secara adat manusia berkumpul diatasnya dan bersatu karena sifat-sifat tersebut.”

Bagi orang yang berakal, merupakan sesuatu yang sangat jelas, bahwa setiap hizb mempunyai prinsip-prinsip, pemikiran, sandaran yang sifatnya intern dan teori-teori yang menjadi patokan, sebagai undang-undang bagi kelompok hizb tersebut, meskipun sebagian mereka tidak menyebutkannya sebagai undang-undang. Kedudukan undang-undang tersebut sebagai asas yang menjadi dasar berpijaknya sistem pengorganisasian hizb, dan hizb sengaja dibangun berdasarkan undang-undang tersebut.

Barangsiapa yang percaya dan meyakininya dengan sungguh-sungguh, maka pada akhirnya dia akan mengakuinya, mengambilnya sebagai asas pergerakan dan amal jama’i yang tersusun rapi dalam hizb tersebut. Sehingga ia menjadi anggotanya atau pendukung setianya. Yang tidak setuju (menolak), maka ia tidak termasuk anggota hizb. Maka, undang-undang itu asasnya wala’ (kesetiaan/loyalitas) dan bara’ (permusuhan) persatuan dan perpecahan, kepedulian dan ketidakpedulian.

Berdasarkan uraian tersebut, maka sesungguhnya di dunia ini hanya ada dua hizb. Yaitu hizb Allah dan hizb setan, yang menang dan yang kalah, yang muslim dan yang kafir. Orang yang memasukkan hizb Allah ke dalam hizb (kelompok, pergerakan, jama’ah-jama’ah) yang lain, maka berarti dia telah merobek-robek hizb Allah, memecah belah kalimat Allah. Sehingga seorang muslim harus meninggalkan dan menanggalkan semua bentuk hizbiyyah yang sempit dan terkutuk, karena telah melemahkan hizb Allah; dan tidak boleh toleran kepada semua kelompok, (golongan, jama’ah) supaya agama Islam ini seluruhnya milik Allah. (lihat ad Da’wah ilallaah Bainat Tajammu’ al Hizbi wat Ta’aawun asy Syar’i, Syaikh Ali Hasan al Halabi al Atsari).

Ahlus Sunnah Mengajak Kaum Muslimin Kepada Persatuan di Atas Sunnah

Jika kaum muslimin bersatu di atas sunnah, mereka akan mendapatkan rahmat Allah, kebaikan dan kekuatan. Sebaliknya, jika mereka berselisih, maka yang akan terjadi adalah kelemahan, kekalahan dan kehancuran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ayat9.jpg

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatan dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.Al Anfaal:46)

Namun wajib diketahui, bahwa persatuan tersebut haruslah dibangun berdasarkan ittiba’ (ketaatan) kepada as Sunnah, bukan dengan bid’ah. Kebanyakan firqah-firqah yang mencela adanya perpecahan dan mengajak kepada persatuan, yang mereka maksud dengan perpecahan adalah golongan yang menyelisihi mereka, meskipun golongan yang dicelanya tersebut berada di atas kebenaran. Sedangkan yang mereka maksud dengan persatuan, yaitu kembali kepada prinsip dan manhaj mereka. Padahal prinsip dan manhaj mereka telah menyimpang dari jalan ash Shirathal Mustaqiin (jalan yg lurus). Oleh karena itu apabila terjadi perselisihan, hendaklah dikembalikan kepada Allah dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dengan pemahaman Salafush Shalih. (lihat QS. an Nisaa:59).

Ahlus Sunnah menyuruh kepada persatuan umat Islam atas dasar sunnah dan melarang berpecah-belah serta bergolong-golongan. Ahlus Sunnah juga menyuruh umat Islam untuk berada dalam satu barisan diatas sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam menghadapi musuh. Adapun kelompok-kelompok bawah tanah, jama’ah-jama’ah sempalan dan bai’at-bai’at yang dikenal sebagai bai’at dakwah, merupakan penyebab timbulnya perpecahan dan fitnah (pertikaian). Bai’at itu hanya boleh diberikan kepada orang yang ditunjuk oleh ahlul halli wal ‘aqdi (semacam lembaga yudikatif), atau kepada seorang muslim yang berkuasa dengan kekuatannya, meskipun ia seorang yang zhalim.

Ahlus Sunnah berpendapat tentang hadist:

“…Barangsiapa mati, sedangkan ia belum berbai’at, maka kematiannya terhitung kematian secara Jahiliyyah.” (HR. Muslim dan al Baihaqiy)

Sanksi yang tersebut dalam hadist diatas ditujukan kepada orang yang tidak membai’at penguasa yang telah ditunjuk dan disepakati oleh ahlul halli wal ‘aqdi. (lihat Silsilatul Ahaadits ash Shahihah 984)

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, ketika menjawab pertanyaan Ishaq bin Ibrahim bin Hani tentang hadits diatas, beliau (Imam Ahmad) menjawab: “Yang dimaksud dengan Imam adalah yang kaum muslimin-seluruhnya- berkumpul untuk membai’atnya. Itulah Imam, dan demikianlah makna hadits ini. “ Sehingga, tidak sebagaimana yang diklaim oleh setiap jama’ah atau kelompok. (As Siraajul Wahhaaj fii Bayaanil Minhaaj, oleh Abul Hasan Mushthafa bin Ismail as Sulaimani al Mishri).

Al Katsiri didalam kitabnya, Fa-idhul Baari berkata: “Ketahuilah bahwa hadits tersebut menunjukkan, bahwa bai’at yang dianggap sah adalah bai’at yang dilakukan oleh seluruh kaum muslimin. Kalau seandainya ada dua orang atau tiga orang yang membai’at, maka hal itu tidak dikatakan (sebagai) Imam sampai (ia) dibai’at oleh kaum muslimin atau ahlul halli wal ‘aqdi.” (Fa-idhul Baari (IV/59), diikuti dari Nashiihah Dzahabiyyah ilal Jamaa’aatil Islaamiyyah, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, ta’liq dan takhrij Syaikh Masyhur Hasan Salman)

Jadi, tentang orang yang meninggalkan bai’at diancam dengan mati Jahiliyyah, itu berlaku bagi orang yang tidak berbai’at kepada Imam, yang padanya telah berkumpul seluruh kaum muslimin atau yang diwakilkan oleh ahlul halli wal ‘aqdi. Adapun yang dilakukan oleh kelompok-kelompok (jama’ah-jama’ah)- yang ada sekarang ini- adalah bai’at bid’ah yang harus ditinggalkan. Sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepada Hudzaifah radhiallahu anhu, yaitu ketika tidak adanya jama’ah dan Imam, maka ia harus meninggalkan semua jama’ah.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“…Hendaklah engkau berpegang teguh (bersatu) kepada jama’ah dan imam kaum muslimin,” kemudian Hidzaifah radhiallahu anhu bertanya: “Bagaimana kalau mereka sudah tidak mempunyai jama’ah dan imam lagi?” Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab : “Jauhilah semua kelompok tersebut, meskipun harus menggigit akar pohon, hingga engkau mati dalam keadaan seperti itu.” (HR. Bukhari, Muslim)

5. AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH MENGAJAK MANUSIA KEPADA AKHLAK YANG MULIA DAN AMAL-AMAL YANG BAIK, SERTA MELARANG BERAKHLAK BURUK

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam diutus untuk mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah Ta’ala saja dan memperbaiki akhlak manusia. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Bukhari dalam al Adabul Mufrad, Ahmad dan al Hakim, dari Abu Hurairah)

Sesungguhnya, antara akhlak dengan aqidah terdapat hubungan yang sangat kuat. Karena akhlak yang baik sebagai bukti dari keimanan, sedangkan akhlak yang buruk sebagai bukti lemahnya iman. Semakin sempurna akhlak seorang muslim, berarti semakin kuat imannya.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik diantar mereka. Dan yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya.” (HR. at Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban (at Ta’liqaatul Hisaan ‘alaa Shahih Ibni Hibban)).

Akhlak yang baik merupakan bagian dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan. Pemiliknya sangat dicintai oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Dan akhlak yang baik menjadi salah satu penyebab seseorang dapat masuk ke dalam surga. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat, melainkan akhlak yang baik. Dan sesungguhnya, Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” (HR. at Tirmidzi dan Ibnu Hibban, dari sahabat Abu Darda radhiallahu anhu, lafadz ini milik Tirmidzi)

Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga bersabda:

Sesungguhnya yang paling aku cintai diantara kalian dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat, ialah yang paling baik akhlaknya…” (HR. at Tirmidzi, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu)

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk surga, maka beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab:

Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Dan ketika ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk neraka, maka beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab: “Lidah dan kemaluan”. (HR. at Tirmidzi, al Bukhari dalam al Adabul Mufrad, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban (at Ta’liqaatul Hisaan ‘alaa Shahih Ibni Hibban), al Hakim, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu).

Ahlus Sunnah juga memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, menganjurkan bersilaturrahim, serta berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan ibnu sabil. (lihat QS. an Nisaa’:36). Mereka (Ahlus Sunnah) melarang dari berbuat sombong, angkuh dan zhalim. (lihat QS al Israa’:37, al A’raaf:36,40, al Anfaal:47, Luqman :18 dan lainya). Mereka memerintahkan untuk berakhlak mulia dan melarang dari akhlak yang hina. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Sesungguhnya Allah Maha Pemurah, menyukai kedermawanan dan akhlak yang mulia, serta membenci akhlak yang rendah (hina).” (HR. al Hakim, dari sahabat Sahl bin Sa’ad radhiallahu anhu)

Sungguh akhlak mulia itu meninggikan derajat seseorang di sisi Allah, sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:

Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik, akan mencapai derajat orang yang shaum (puasa) disiang hari dan shalat di tengah malam.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan al Hakim, dari ‘Aisyah).

Akhlak yang mulia dapat menambah umur dan menjadikan rumah makmur, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:

“…Akhlak yang baik dan bertetangga yang baik, keduanya menjadikan rumah makmur dan menambah umur.” (HR. Ahmad, dari ‘Aisyah).

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam firman-Nya:

ayat10.jpg

Dan sesungguhnya kamu benar-benar mempunyai akhlak yang agung.” (QS. al Qalam:4)

Hal ini sesuai dengan penuturan ‘Aisyah radhiallahu anha:

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR.Bukhari dan Muslim, dari sahabat Anas bin Malik)

Begitu pula para sahabat radhiallahu anhum, mereka adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Diantara akhlak Salafush Shalih yaitu:

  • Ikhlas dalam ilmu dan amal serta takut berbuat riya’.

  • Jujur dalam segala hal dan menjauhkan dari sifat dusta.

  • Bersungguh-sungguh dalam menunaikan amanah dan tidak khianat.

  • Menjunjung tinggi hak-hak Allah dan Rasul-Nya Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

  • Berusaha meninggalkan segala bentuk kemunafikan.

  • Lembut hatinya, banyak mengingat mati dan akhirat, serta takut terhadap akhir kehidupan yang jelek (su’ul khatimah)

  • Banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala, dan tidak berbicara yang sia-sia.

  • Tawaadhu’ (rendah hati) dan tidak sombong.

  • Banyak bertaubat, beristighfar (mohon ampun) kepada Allah, baik siang maupun malam.

  • Bersungguh-sungguh dalam bertakwa dan tidak mengaku-ngaku sebagai orang yang bertakwa, serta senantiasa takut kepada Allah.

  • Sibuk dengan aib diri sendiri dan tidak sibuk dengan aib orang lain, serta selalu menutupi aib orang lain.

  • Senantiasa menjaga lisan mereka, tidak suka ghibah (tidak menggunjing sesame muslim).

  • Pemalu

Malu adalah akhlak Islam, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi    Wassalam:

“sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” (HR. Ibnu Majah, ath Thabrani dalam Mu’jamush Shagir, dari sahabat Anas bin Malik).

Begitu pula sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu, melainkan kebaikan semata.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari sahabat ‘Imran bin Husain).

  • Banyak memaafkan dan sabar kepada orang yang menyakitinya.

Allah Ta’ala berfirman:

ayat111.jpg

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al A’raff:199)

  • Banyak bershadaqah, dermawan, menolong orang-orang yang susah, tidak bakhil/ tidak pelit.

  • Mendamaikan orang yang punya sengketa.

  • Tidak hasad (dengki, iri), tidak berburuk sangka sesame mukmin.

  • Berani dalam mengatakan kebenaran dan menyukainya. (diringkas dan disadur dari al Wajiiz fii ‘Aqidatis Salafish Shalih dan Min Akhlaaqis Salaf oleh Ahmad Farid)

Demikianlah diantara akhlak Salafush Shalih. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai akhlak yang tinggi dan mulia serta dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Orang-orang yang mengikuti jejak mereka, sudah seharusnya juga mempunyai akhlak mulia, karena akhlak sangat erat hubungannya dengan ‘aqidah dan manhaj. Semoga kita selalu diberi taufiq oleh Allah Ta’ala dan diberi kekuatan untuk dapat meneladani akhlak Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabatnya radhiallahu anhum. Dan bagi seseorang, tidak diperbolehkan mengatakan, “Salaf itu tidak berakhlak”, karena kalimat ini merupakan celaan terhadap generasi yang terbaik dari umat ini. Adapun kesalahan individu dalam masalah akhlak, maka sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun yang ma’shum kecuali Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Dikutip dari Majalah As Sunnah Edisi 11/X/1428 H/2007 M

Download PDF

Satu Tanggapan

  1. saya sangat setuju dengan artikel tersebut, krn sudah saatnya islam bangkit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: