FATWA ULAMA:QUBAH DI ATAS MAKAM

Soal: Ada orang yang menjadikan pembangunan kubah hijau di atas makam Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai alasan untuk memperbolehkan pembangunan kubah di atas makam yang lain, seperti makam orang-orang shalih. Benarkah alasan ini, atau bagaimana membantah mereka?

Jawab:

Tidak sah beralasan dengan pembangunan kubah di atas makam Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk memperbolehkan pembangunan kubah di makam lainnya, baik orang-orang shalih ataupun bukan. Karena pembuatan kubah yang mereka lakukan di atas makam Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah perbuatan haram, menyebabkan pelakunya berdosa. Karena bertentangan dengan hadits yang sah dari Abul Hayyaj al Asadi, dia mengatakan: Ali radhiallahu anhu mengatakan kepadaku,

Maukah engkau kuutus dengan membawa tugas yang dibebankan kepadaku oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, yaitu janganlah engkau membiarkan patung kecuali engkau hancurkan, dan tidak membiarkan kuburan yang tinggi kecuali engkau ratakan.”

Dan diriwayatkan dari Jabir radhiallahu anhu, dia mengatakan:

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam melarang mengapur kuburan, duduk di atasnya serta membangun di atas kuburan.”

Kedua hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya. Berdasarkan uraian diatas, maka seseorang tidak boleh berhujjah dengan perbuatan haram sebagiab orang untuk memperbolehkan perbuatan haram yang sejenis. Karena, tidak boleh menentang sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dengan perkataan atau perbuatan orang lain. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah penyampai (risalah) dari Allah Ta’ala. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wajib di taati dan tidak boleh di tentang, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

 

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. al Hasyr:7)

Dan ayat-ayat lainnya yang memerintahkan agar taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya. Juga, karena membangun makam atau membuat kubah di atasnya merupakan salah satu sarana (yang bisa menyebabkan) munculnya perbuatan syirik terhadap penghuni makam. Maka wajib menutup pintu yang bisa mengantarkan kepada perbuatan syirik

Lajnah Daimah lil Buhuts al ‘Ilmiyah wal Ifta,

Ketua : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz

Wakil : Syaikh Abdurrazaq al Afifi

Anggota: Syaikh Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa Lajnah Daimah lil Buhutsal ‘Ilmiyah wal Ifta’, IX/82-83)

 

Diambil dari Majalah As Sunnah Edisi 03/X/1427 H/2006 M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: