Apakah Al-Qur’an Bersaksi Akan Kebenaran Injil ?

Apakah Al-Qur’an Bersaksi Akan Kebenaran Injil ?

Oleh : Syaikh Mamduh Farhan al Buhairi

Termasuk syubhat yang sering diulang-ulang oleh orang Nasrani dan telah menjerumuskan banyak orang bodoh adalah ucapan bahwa al Qur’an telah memberikan kesaksian akan kebenaran Injil. Bahwa Injil adalah sebuah kitab yang diturunkan dari sisi Allah. Mereka mendasarkan ucapan-ucapan tersebut pada beberapa ayat dari al Qur’an, diantaranya adalah Allah memerintahkan untuk berhukum kepadanya sebagaimana dalam firman-Nya:

ayat116.jpg

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya.” (QS. al Maidah:47)

Juga pensifatan al-Qur’an akan Injil bahwa Injil adalah sebuah kitab petunjuk, cahaya, dan penjelas bagi orang-orang mukmin. Sebagaimana firman Allah :

ayat214.jpg

Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cayaha (yang menerangi), dan membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. al Maidah:46)

Diantaranya juga, penjelasan al-Qur’an bahwa mengamalkan Injil adalah sebab kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah :

ayat312.jpg

Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (al Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapatkan makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka.” (QS. al Maidah:66)

Tidak cukup demikian, bahkan Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk menjadikan Injil sebagai sunber rujukan. Sebagaimana firman Allah yang artinya:

Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab sebelum kamu.” (QS. Yunus:94)

Dan ayat-ayat lain yang membenarkan Injil

Jawaban Atas Syubhat :

Sebelum kita memulai menjawab, kita berhak mengajukan dua pertanyaan penting;

Pertanyaan pertama: Apakah orang-orang Nasrani mengimani al Qur’an sehingga boleh bagi mereka untuk berhujjah dengannya? Jika jawabannya tidak, maka bagaimana mereka akan berhujjah dengan al Qur’an sementara mereka tidak meyakini kebenarannya? Bukankah hujjah seseorang dengan sesuatu yang dia yakini kebatilannya berarti telah mengakui dan membenarkan kebatilannya. Tidak bisa dikatakan: Sesungguhnya hujjah mereka dengan al Qur’an serupa dengan berhujjahnya kaum muslimin dengan Injil dalam membatilkan keyakinan Nasrani. Karena terdapat perbedaan antara pandangan kaum muslimin terhadap Injil dengan pandangan kaum Nasrani terhadap al Qur’an. Pandangan orang Nasrani terhadap al Qur’an di bangun di atas pandangan bahwa al Qur’an adalah sebuah kebatilan yang didustakan atas nama Allah Ta’ala. Pada saat yang sama kaum muslimin beranggapan bahwa Injil yang ada di tangan orang Nasrani telah mencakup riwayat-riwayat tentang al Masih, di dalamnya terdapat kebenaran dan kebatilan, maka seorang muslim berhujjah dengan kebenaran yang ada di dalamnya serta meninggalkan kebatilannya.

Pertanyaan kedua: Apakah kaum Nasrani berkeyakinan bahwa sifat-sifat Injil yang ada dalam al Qur’an berbicara tentang Injil-Injil yang sekarang ada di tangan mereka? Jika jawabannya tidak, maka tidak boleh bagi mereka untuk berhujjah dengan al Qur’an atas kebenaran Injil tersebut. Karena Injil-Injil tersebut berbeda dengan apa yang disucikan dan disaksian al Qur’an.

Jika jawabannya Ya, maka dikatakan, sesungguhnya yang demikian itu bertentangan dengan kenyataan, karena sesungguhnya al Qur’an menyebutkan sifat-sifat Injil yang tidak serupa dengan sifat-sifat Injil yang berada di tangan orang Nasrani. Hal ini bisa menjadi jelas dengan beberapa sisi:

Sisi pertama: Bahwasanya Allah Ta’ala telah mensifati Injil di dalam al Qur’an sebagai kitab yang diturunkan dari sisi-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya:

Dan (Dia) menurunkan Taurat dan Injil.” (QS. Ali Imran:3)

Sementara orang-orang Nasrani tidak meyakini demikian, bahkan mereka berkeyakinan bahwa Injil ditulis oleh laki-laki pilihan Allah dengan ilham Roh Kudus.

Sisi kedua: bahwa al Qur’an telah terang-terangan menyebutkan kabar gembira akan datangnya Nabi umat Islam tertulis di dalam Injil. Sebagaimana firman Allah :

ayat410.jpg

(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” (QS. al A’raaf:157)

Sementara orang-orang Nasrani tidak meyakini adanya kabar gembira apapun tentang kedatangan Nabi umat Islam di dalam Injil.

Sisi ketiga: bahwasanya al Qur’an telah menyebutkan di dalam Injil terdapat penyebutan sifat-sifat bagi sahabat Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wassalam sebagaimana firman Allah:

ayat59.jpg

Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).”(QS. al Fath:29).

Sementara orang-orang Nasrani tidak mengakui adanya sifat tersebut di dalam Injil. Semua itu menjadikan kita semakin mantap bahwa Injil yang disebutkan al Qur’an, yang disanjungnya, dan memerintahkan untuk berhukum dengannya berbeda sama sekali dengan apa yang sekarang ada di tangan orang-orang Nasrani. Karena tidak masuk akal jika al Qur’an menyanjung Injil yang menentangnya dalam aqidah pokok dan menisbatkan kepadanya beberapa perkara yang tidak ada di dalamnya.!

Di sini ada sebuah pertanyaan penting; Injil apakah yang sedang dibicarakan oleh al Qur’an, dan dimanakah dia? Maka jawabannya: Injil tersebut adalah Injil Nabi Isa ‘Alaihis Salam yang diturunkan oleh Allah kepada beliau yang didalamnya terdapat firman dan pelajaran-Nya. Adapun dimanakah dia, dan dimana tempatnya? Maka ini adalah sebuah perkara yang tidak kita ketahui. Orang-orang Nasrani telah teledor terhadap penjagaan kitab mereka. Mereka menyia-nyiakan dan menggantinya. Para ahli sejarah telah mencatat bahwa para pendeta dan Paus telah memilih empat macam Injil, yakni Mathius, Markus, Lukas dan Yohana dari puluhan Injil yang pemiliknya telah diputuskan kafir, yang berhak untuk dibunuh dan di siksa.

Jika mereka berkata: Sesungguhnya Injil-Injil yang sekarang ada di tangan kami adalah Injil yang sama, yang ada di zaman turunnya al Qur’an, dan Nasrani tidak tahu yang lainnya. Maka jawabannya adalah keberadaan Injil-Injil tersebut di zaman turunnya al Qur’an tidak mengharuskan bahwa Injil yang lain tidak ada. Di dalam Injil Barnabas terdapat saksi terbesar tentang hal ini. Di dalamnya terdapat hal-hal yang sesuai dengan apa yang dibawa oleh al Qur’an (tidak terkecuali dalam masalah aqidah).Di dalamnya terdapat kabar gembira akan datangnya seorang Nabi Islam yang menafikan ketuhanan al Masih ‘Alaihis Salam.

Jika mereka membantah bahwa Injil tersebut tidak benar secara sejarah, maka jawabannya adalah bahwa segala sesuatu yang disebutkan di dalam Injil Barnabas kemungkinan juga dikatakan pada Injil-Injil lain; Matius, Markus, Lukas dan Yohana. Ucapan bahwa Injil Barnabas ditemukan baru-baru ini adalah ucapan yang tertolak. Telah disebutkan dalam maklumat yang diterbitkan oleh Paus Glasius tentang penjelasan kitab-kitab yang diharamkan dibaca.Termasuk didalamnya adalah Injil Barnabas. Paus Glasius telah merampungkannya di akhir abad ke 5 Masehi, yaitu sebelum diutusnya Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Dengan demikian, menjadi jelaslah kebatilan bahwa al Qur’an telah membenarkan Injil yang sekarang berada di tangan orang-orang Nasrani. Disela-sela syubhat ini menjadi jelas, bagaimana sebagian orang muslim yang bodoh sibuk dengan al Qur’an untuk menggiring syubhat-syubhat mereka dan membuat pahit kebatilan-kebatilan mereka.

Perkara yang wajib atas seorang muslim adalah menjaga dengan rinci perkataannya, bertanya kepada ahli ilmu terhadap apa yang dihadapkan kepadanya-terutama dalam bidang aqidah- hingga dia bisa menjaga agama, dan menyelamatkan hatinya dari penyakit syubhat dan dampaknya.

Di kutip dari Majalah Qiblati Edisi 10 tahun II

Download PDF

8 Tanggapan

  1. Benar sekali seperti itu. Saya jadi punya pemahaman seperti ini : Allah tidak mampu menjaga kemurnian kitab-kitab-Nya dari tangan-tangan manusia musyrik. Allah tidak mampu menjaga kemurnian Taurat dari tangan orang Yahudi, sebagaimana Dia juga tidak mampu menjaga kemurnian Injil dari tangan orang Nasrani. Mohon dikoreksi. Terimakasih.

    By the way, apakah Anda percaya dengan Injil Barnabas ?

    Saya sangat prihatin jika Anda menjawab : Iya, saya percaya.

    Anda seorang Nashara? kalimat anda salah, bukan Alloh tidak mampu menjaga kemurnian kitab-kitab-Nya yang diturunkan sebelum AlQur’an, akan tetapi Allah memang tidak menjamin kemurnian kitab-kitab tersebut karena Alloh akan menurunkan Al Qur’an sebagai penyempurna seluruh kitab-kitab yang pernah diturunkan sebelumnya. Syari’at Alloh yang diturunkan melalui AL Qur’an adalah telah sempurna dan Alloh sendiri yang akan menjamin kemurnian AL Qur’an sampai hari akhir. Syari’at Alloh yang diturunkan mulai dari Nabi yang pertama yaitu Adam ‘Alaihissalam sampai Nabi yang terakhir dan sebagai penutup para Nabi yaitu Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ibarat sebuah bangunan dan Nabi Muhammad lah yang menyempurnakan bangunan (syari’at) Allah tersebut. Wallahu A’lam

  2. hanya org yang cerdas dan pintar lah yg mengetahui keaslian quran… apakah anda membaca semua isi dalam alquran?? atw hanya beberapa ayat saja?? kalo anda belum baca smuanya, anda belum boleh berkomentar tentang alquran dan keasliannya… ^^

    • anda salah memberi pertanyaan, harusnya…apakah anda sudah paham akn makna semua isi dlm al-qur’an? kalau hanya membaca, banyak ornglah yg sudh hatam???
      (read : saran)

  3. saya yakin sekali atas kebenaran AlQuran, dan saya meyakini apapun yang ada di dalamnya tanpa terkecuali. bukan karena fanatisme saya yang tinggi terhadap AlQuran, tapi tidak dapat disangsikan lagi, bhwa AlQuran adalah kitab yang sempurna, yang merupakan kalam murni dari ALLAH SWT, sedang injil sudah mengalami revisi, yang bagi saya(maaf), merupakan salah satu bentuk dari budaya.
    dan apabila sebuah kitab adalah hasil dari budaya, tidak ada jaminan sama sekali bahwa kesahihan dan kebenarannya terjamin merupakan kalam Illahi..

    maaf jika lancang, saya baru 16 th

  4. saya juga yakin sekali atas kebenaran AlQuran,maha benar ALLAH dgn segala firman-Nya,kalo ingin lbh jelas lagi carilah di youtube atau om gogle seacrh aja dsana”debat islam dan kristen”atau ”kebenaran ALQuran vs Injil” maka kalian akan mnemukan jawabannya wahai para yahudi dan nasrani,siapakah yang benar???anda sendiri yg menentukannya. terima kasih

  5. sedikit mendapat pencerahan ^_^

  6. subhanallah,walhamduliilah,walailaha illahlah wallahhu akbar,lahaulah wala quwata illah billah…..Hati-hati memahami ayat-ayat allah, terutama ayat-ayat mutasyahibat baca s.q. ali imran 7.hanya allah yang tahu takwilnya. mohon maaf tulisan tidak terlalu tepat, maklum saya muallaf. insyah allah akan jadi islam sejati

  7. ya allah berkati dan kasihi diri ini dengan cintamu
    allahu’akbar segala puji bagimu dan rasul ku
    amin.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: