Qiyam Ramadhan

 QIYAM RAMADHAN

 

Salah satu syiar yang menghidupkan Ramadahan adalah adanya shalat malam berjama’ah. Qiyamullail Ramadhan atau shalat malam pada bulan Ramadhan ini dikenal pula dengan sebutan shalat tarawih. Tarawih artinya adalah istirahat. Shalat ini disebut sebagai shalat tarawih karena setiap selesai melakukan shalat 4 rakaat, jama’ah melakukan istirahat.

Keutamaan Shalat Tarawih

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya,

ayat12.jpg

Barangsiapa yang melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan, karena iman dan mencari pahala, maka diampuni untuknya apa yang telah lalu dari dosanya.”(Muttafaq alaihi)

Dari Abdurrahman bin Auf, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya, “ Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan di saat Allah mewajibkan puasanya dan sesungguhnya aku mensunnahkan qiyamnya untuk orang-orang islam. Barangsiapa berpuasa Ramadhan dan qiyam karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.” (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, Al-Bazzar, Abu Ya’la, dan Abdur Razaq meriwayatkannya dari Abu Hurairah. Diriwayatkan juga oleh An-Nasa’I dan berkata, ‘yang benar adalah dari Abu Hurairah”). Menurut Al-Arnau’th dalam Jami’ul Ushul, juz 6, halaman 441, hadits ini hasan dengan adanya nash-nash lain yang menguatkannya. Syaikh Al-Albani berkata, “yang shahih hanya kalimat kedua saja, yang awal dhaif.”

Dari Amr bin Murroh, ia berkata, “datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam seorang laki-laki Bani Qudhaah, lalu berkata, ‘wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku telah bersyahadat tiada sesembahan yang haq, kecuali Allah, dan bersyahadat bahwa engkau adalah utusan-Nya, aku shalat lima waktu, puasa satu bulan (Ramadhan), dan aku telah menegakkan (malam-malam) Ramadhan serta aku tunaikan zakat?’ Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, Barangsiapa yang mati atas hal ini, dia termasuk dalam (kelompok) shiddiqin dan orang-orang yang syahid.”(Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab shahih keduanya dan oleh selainnya dengan sanad yang shahih).

Hukum Shalat Tarawih

         Shalat tarawih atau shalat pada malam-malam Ramadhan hukumnya adalah sunnah muakkadah atau sunnat yang ditekankan.

Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al-Jarullah berkata dalam Risalah Ramadhan, “Qiyam Ramadhan hukumnya sunnah muakadah, dituntunkan oleh Rasulullah dan beliau anjurkan serta sarankan kepada kaum muslimin. Juga diamalkan oleh Khulafa Ar-Rasyidin dan para shahabat serta Tabi’in. karena itu, seyogyanya seorang muslim senantiasa mengerjakan shalat tarawih pada bulan Ramadhan dan shalat malam pada sepuluh malam terakhir, untuk mendapatkan lailatul qadar.”

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan dalam Ittihaf Ahli Iman bi Durusi Syahri Ramadhan berkata, “Salah satu yang disyari’atkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pada bulan mubarak (yang diberkahi) ini adalah shalat tarawih yang hukumnya sunnah muakadah.” Di tempat lain dalam buku yang sama, beliau berkata, “Jadi, shalat tarawih merupakan sunnah yang telah tsabit (tetap) dan tidak pantas seorang muslim meninggalkannya.”

 

Cara Shalat Tarawih

Pendapat yang popular dalam jumlah rakaat shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah adalah sebagai berikut:

  1. 11 rakaat terdiri dari 4 rakaat x 2, ditambah 3 rakaat witir. Ini sesuai dengan hadits Aisyah yang diriwayatkan Al-Bukhari.

  2. 11 rakaat terdiri dari 4 rakaat x 2, ditambah 2 rakaat witir, kemudian ditambah 1 rakaat witir, ini sesuai dengan hadits Aisyah yang diriwayatkan Muslim

  3. 11 rakaat terdiri dari 2 rakaat x 4, ditambah 3 rakaat witir. Ini juga diriwayatkan Muslim

  4. Ada juga riwayat Ibnu Hibban yang mengatakan 8 rakaat ditambah witir.

  5. Ada juga riwayat yang mengatakan 13 rakaat termasuk witir.

Ini adalah diantara riwayat-riwayat yang shahih tentang shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah.

 

Waktu Shalat Tarawih

Waktunya dimulai dari setelah shalat Isya’ sampai munculnya fajar shubuh, dengan dalil sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, “Sesungguhnya Allah telah menambah kalian satu shalat dan dia adalah witir maka shalatlah kalian antara shalat isya’ sampai shalat fajar.” (Riwayat Ahmad dari Abi Bashroh, dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Qiyamur Romadhon halaman 26).

Dan shalat malam diakhir malam lebih utama bagi yang mampu untuk bangun diakhir malam, dengan dalil sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang takut tidak bangun di akhir malam, maka berwitirlah di awalnya, dan barangsiapa yang tamak untuk biasa bangun di akhirnya, maka hendaklah berwitir diakhir malam, karena shalat di akhir malam itu dipersaksikan, dan itu lebih utama.” (Riwayat Muslim).

Tetapi kalau terdapat shalat tarawih berjama’ah di awal malam maka itu lebih utama dari shalat tarawih di akhir malam sendirian sebagaimana akan diterangkan di bawah ini.

 

Sendirian atau Berjama’ah?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul tentang shalat tarawih ini adalah tentang mengerjakannya: antara sendirian atau berjama’ah. Jika kita melihat riwayat-riwayat yang ada, shalat tarawih dengan berjama’ah adalah sangat dianjurkan. Dibawah ini dinukilkan sebagian riwayat yang menunjukkan sangat dianjurkannya shalat tarawih secara berjama’ah, terutama riwayat yang berkaitan dengan perbuatan Rasulullah. Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Kami pernah shalat (malam) bersama Rasulullah, pada malam ke 23 di bulan Ramadhan hingga sepertiga malam pertama, kemudian kami shalat lagi bersamanya pada malam ke-25 hingga pertengahan malam, kemudian beliau mengimami kami pada malam ke-27 hingga kami mengira, kami tidak akan mendapatkan waktu ‘falah’.” Ia berkata, “kami menyebut sahur dengan sebutan ‘falah’.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, An-Nasai, Ahmad, dan Faryabi. Sanadnya shahih dan disahkan oleh Al-Hakim).

Al-Hakim berkata, “Hadits ini merupakan dalil yang terang bahwa shalat tarawih di mesjid-mesjid kaum muslimin adalah sunnah (dianjurkan), dan Ali bin Abi Thalib menganjurkan Umar Bin Khattab untuk melestarikan sunnah ini.” (Al-Mustadrak:440).

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam shalat di bulan Ramadhan, kemudian aku datang dan aku berdiri di sampingnya, kemudian datang yang lain, kemudian yang lain lagi, sehingga waktu itu kami menjadi kelompok (berjumlah lebih kurang 10 orang). Ketika Rasululah merasa bahwa kami berada di belakangnya, beliau meringkas shalatnya, kemudian masuk rumahnya. Ketika beliau masuk rumahnya, beliau mengerjakan shalat yang tidak dikerjakan bersama kami. Ketika kami masuk waktu pagi, kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak mengetahui kami tadi malam?’ Beliau menjawab. ‘Ya, justru itulah yang mendorongku untuk melakukan apa yang aku perbuat.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Nashr, dengan sanad yang shahih)

Dari Aisyah, ia berkata, “pernah orang-orang shalat (malam) di mesjid Rasulullah pada bulan Ramadhan dengan sendiri-sendiri, orang-orang itu mempunyai sedikit hafalan Al Qur’an, lalu ada kurang lebih lima atau enam orang, atau lebih sedikit, atau lebih banyak dari jumlah itu yang mengikuti shalat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam

(Aisyah berkata) kemudian Rasulullah menyuruh aku mendirikan tikar di pintu kamarku, lalu aku kerjakan. Kemudian ia keluar ke pintu sesudah shalat Isya’ yang terakhir. Ia (Aisyah) berkata, ‘lalu orang-orang yang di mesjid mengerumuni beliau, lalu Rasulullah shalat bersama mereka, shalat malam yang panjang, kemudian beliau berpaling dan masuk (ke rumah), beliau tinggalkan tikar itu sebagaimana adanya.

Ketika pagi hari orang-orang memperbincangkan shalat Rasulullah bersama mereka yang di mesjid pada malam itu. Akibatnya orang-orang berkumpul menjadi lebih banyak lagi sehingga mesjid menjadi penuh sesak.

Rasulullah keluar pada malam kedua, maka orang-orang shalat mengikuti shalatnya. Pagi harinya orang-orang menceritakan kejadian itu, sehingga bertambah banyaklah pengunjung di malam ketiga, pada malam itu beliau keluar dan orang-orang shalat mengikuti shalatnya. (akhirnya) pada hari keempat, mesjid tidak mampu lagi menampung pengunjungnya, maka Rasulullah shalat isya bersama mereka, kemudian beliau masuk rumahnya dan orang-orang memastikan hal itu.

Aisyah melanjutkan, “Beliau bertanya kepadaku, ‘Bagaimana orang-orang bisa seperti itu, Aisyah?’ Aku menjawab,’Wahai Rasulullah, orang-orang mendengar tentang shalatmu bersama mereka di mesjid tadi malam, oleh karena itu mereka berkumpul agar engkau mau shalat bersama mereka.”

Beliau berkata, ‘Gulunglah tikarmu ini, Wahai Aisyah!”lalu aku kerjakan. Malam itu Rasulullah tidur dengan tidak lalai, sedangkan orang-orang mengetahui tempatnya, kemudian masuklah beberapa orang dari mereka sambil berkata, Ash-shalah!’ hingga Rasulullah keluar untuk shalat subuh.

Setelah selesai shalat fajar, beliau menghadap ke orang banyak, kemudian bertasyahud dan berkata, Amma ba’du! Wahai orang-orang demi Allah dan alhamdulillah tadi malam aku tidur pulas, tidak tersembunyi bagiku tempat-tempat kamu, tetapi aku khawatir akan dijadikan kewajiban bagi kamu sekalian.” Pada riwayat lain,’Tetapi aku takut diwajibkan atas kamu shalat malam (itu), dan kamu tidak sanggup mengerjakannya…”

Pada riwayat lain Az-Zuhri menambahkan, “Rasulullah wafat, sedangkan orang-orang dalam keadaan seperti itu, demikian juga pada masa khalifah Abu Bakar dan permulaan kekhalifahan Umar.” (Riwayat Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasai, Ahmad, Faryabi, dan Ibnu Nashr)

Pada riwayat Az-Zuhri ini, kalimat ‘sedangkan orang-orang dalam keadaan seperti itu’, mempunyai dua pengertian, yaitu 1) meninggalkan jama’ah (tidak berjama’ah) dalam pelaksanaan tarawih, 2) shalat sendiri-sendiri (mengadakan jama’ah masing-masing). Syaikh Al-Albani lebih cenderung pada pengertian yang kedua.

Perbuatan Rasulullah shalat tarawih berjama’ah selama tiga malam bersama mereka merupakan petunjuk jelas bahwa shalat tarawih itu sebaiknya dikerjakan dengan berjama’ah. Adapun sikap Rasulullah yang tidak hadir bersama mereka pada malam keempat tidak dapat diartikan bahwa anjuran itu sedah dihapuskan, karena ketika itu beliau menyebutkan alasannya, yaitu,’Aku takut/khawatir akan diwajibkan atas kamu.’

Ketika Rasulullah wafat, maka berarti syari’at ini telah tetap, tidak akan berubah lagi. Dengan demikian hilanglah kekhawatiran bahwa shalat malam berjama’ah akan diwajibkan. Maka, kita kembali pada hukum yang terdahulu, yaitu anjuran berjama’ah dalam mengerjakan shalat tarawih.

Yang menghidupkan sunnah ini adalah khalifah Ar-Rasyid Umar bin Al Khattab sebagaimana yang dikabarkan yang demikian oleh Abdurrahman bin Abdin Al-Qorry, ia berkata, “Aku keluar bersama Umar bin Al Khattab suatu malam di bulan Ramadhan ke mesjid, ketika itu manusia berkelompok-kelompok (berpisah-pisah). Ada yang shalat sendirian dan ada yang berjama’ah, maka Umar berkata, ‘Aku berpendapat kalau mereka dikumpulkan dalam satu imam niscaya akan lebih baik. Kemudian beliau mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah dengan imam Ubay bin Ka’ab. Setelah itu aku keluar bersamanya pada suatu malam, manusia tengah shalat bersama mereka, Umar pun berujar,’ sebaik-baik bid’ah adalah ini, orang-orang yang tidur lebih utama dari yang bangun sedangkan ketika itu manusia shalat di awal malam.” (Riwayat Al-Bukhari (4/218), dan tambahan dalam riwayat Malik (1/114), Abdul Razzaq (7733)).

Lafadz atsar di atas, “orang-orang tidur lebih utama dari…”dikomentari oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar sebagai berikut, “Hal ini adalah keterangan yang jelas bahwa shalat tarawih di akhir malam lebih afdhal daripada di awalnya. Akan tetapi shalat tarawih sendirian itu tidaklah lebih utama daripada berjama’ah.”

Syaikh Al Albani menambahkan, “Bahkan jama’ah di awal waktu lebih utama daripada shalat di akhir malam sendirian.” (shalat Tarawih halaman 42).

 

Shalat Malam Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam Hanya Sebelas Rakaat

Masalah lain yang sering muncul dalam pelaksanaan shalat tarawih ini adalah tentang jumlah rakaatnya. Umat islam sering berbeda pendapat dalam masalah ini, apakah jumlah rakaatnya 11, ataukah 23? Yang pasti disini adalah Rasulullah tidak pernah mengerjakan shalat malam baik Ramadhan maupun di luar Ramadhan melebihi 11 rakaat. Ada dua hadits yang mendukung hal ini:

Hadits yang pertama, dari Abi Salamah bin Abdurrahman bahwasannya ia bertanya kepada Aisyah tentang shalat Rasulullah di bulan Ramadhan. Maka ia menjawab,” Tidak pernah Rasulullah kerjakan (tathawwu’) di bulan Ramadhan dan tidak pula dilainnya lebih dari sebelas rakat (yaitu) ia shalat empat (rakaat) jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian ia shalat empat (rakaat). Jangan engkau tanya panjang dan bagusnya kemudian ia shalat tiga rakaat.”(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Pada riwayat lain, seperti Abi Syaibah II;16/1 dan Muslim serta lainnya, disebutkan bahwa shalat beliau di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya adalah 13 rakaat, termasuk pada jumlah tersebut dua rakaat fajar/subuh. Tetapi pada riwayat lain dari Malik dan juga Bukhari bahwasannya Aisyah berkata, “adalah Rasulullah, shalat malam 13 rakaat, kemudian ketika mendengar adzan subuh, ia shalat dua rakaat yang ringan.”

Adapun perincian 13 rakaat yang dimaksud pada riwayat di atas adalah sebagaimana riwayat Zaid bin Khalid Al Juhani, bahwasannya ia berkata, “aku perhatikan shalat malam Rasulullah, yaitu (ia) shalat dua rakaat yang ringan, kemudian ia shalat dua rakaat yag panjang sekali, kemudian shalat dua rakaat, dan dua rakaat ini tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian witir satu rakaat yang demikian adalah 13 rakaat’. Diriwayatkan oleh Malik, Muslim,Abu Awanah, Abu Dawud dan Ibnu Nashr.

Al Hafidh mengkompromikan riwayat (13 rakaat) ini dengan riwayat sebelumnya (11 rakaat), beliau mengatakan, “Dhahir hadits ini menyelisihi yang telah lewat, maka dimungkinkan bahwa (kelebihan ) dua rakaat (pada yang 13 rakaat) tadi adalah sunnah ba’da Isya’. Hal itu karena memang shalat ini dilaksanakan di rumah atau sebagai pembuka shalat malam, karena telah tsabit (tetap) dalam riwayat Muslim bahwa Rasulullah membuka shalat lail dengan dua rakat yang ringan/pendek.’

Syaikh Al-Albani lebih cenderung mengatakan dua rakaat yang ringan adalah dua rakaat ba’diyah Isya’; dasarnya adalah riwayat Ibnu Nashr dalam kitab Qiyamullail halaman 48 dimana diceritakan, “Bahwa kami (shahabat) pulang dari Hudaibiyah bersama Rasululah ketika sampai di Suqya (kota yang terletak antara Mekkah dan Madinah), Rasulullah berdiri dan Jabir ada di sisinya, kemudian mereka berdua shalat Isya’, kemudian shalat tiga belas rakaat.” Kedududukan hadits ini memang tidak begitu kuat karena pada sanadnya terdapat rawi bernama Syarhabil bin Sa’ad, padanya terdapat kelemahan. Sungguhpun demikian ia dapat dijadikan pertimbangan, bahwa sunnah ba’diyah Isya’ masuk dalam jumlah 13 Rakaat tersebut.

Syaikh Al-Albani mengatakan, “Inilah yang rajih menurutku, karena riwayat Abi Salamah menunjukkah kekhususan/pengharusan pada sebelas rakaat, yaitu 4 rakaat, 4 rakaat, kemudian 3 rakaat. Hal ini menunjukkan tidak bertentangan dengan riwayat 2 rakaat yang ringkas.”

Aisyah menyebutkan,”…kemudian ia shalat empat (rakaat)….” Maksudnya adalah dengan satu kali salam. Imam Nawawi dalam syarah Muslim mengatakan, bahwa disebut demikian, untuk menunjukkan bolehnya satu kali salam. Yang lebih afdhal adalah memberi salam dalam setiap dua rakaat sebagaimana sabda beliau, “Shalat malam dan siang, dua rakaat dua rakaat.” Syaikh Al-Albani memilih pendapat yang kedua. Begitu pula para pengikut Imam Syafi’I, bahkan mereka beranggapan salam satu kali itu tidak shah shalatnya.

Hadits yang kedua, dari Jabir bin Abdullah , ia berkata, “Rasulullah pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan (sebanyak) delapan rakaat dan witir (satu raka’at). Maka pada hari berikutnya kami berkumpul di mesjid dan mengharap beliau keluar (untuk shalat), tetapi tidak keluar hingga masuk waktu pagi, kemudian kami masuk kepadanya, lalu kami berkata, ‘ Ya Rasulullah! Tadi malam kami telah berkumpul di mesjid dan kami harapkan engkau mau shalat bersama kami.’ Maka sabdanya, ‘Sesungguhnya aku khawatir (shalat itu) akan diwajibkan atas kamu sekalian.’.” (Riwayat Thabrani dan Ibnu Nashr).

 

Lemahnya Hadits 20 dan 23 Rakaat

Sebagian kaum muslim mengetengahkan beberapa riwayat untuk mendukung amalan mereka bertarawih dengan 20 atau 23 rakaat. Riwayat-riwayat tersebut adalah:

Pertama, dari Ibnu Abbas ia berkata, “Sesungguhnya Nabi shalat di bulan Ramadhan duapuluh rakaat,” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Abdu bin Humaid, Thabrani di kitabnya Al Mu’jam Kabir dan Ausath, Baihaqi dan Ibnu Adi dan lain-lain). Di riwayat lain ada tambahan, “Dan (Nabi) witir setelah shalat dua puluh rakaat.”

Riwayat ini semuanya dari jalan Abu Syaibah, yang namanya: Ibrahim bin Utsman dari Al Hakim, dari Misqam, dari Ibnu Abbas.

Tentang hadits ini, Ibnu Hajar ketika mengomentari hadits Abi Salamah yang bertanya kepada Aisyah dalam kitab Fathul Bari IV:205-206, berkata, “Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Abbas, bahwasanya Rasulullah pernah shalat (malam) di bulan Ramadhan 20 rakaat dan berwitir satu rakaat itu, sanadnya lemah. Hadits ini bertentangan dengan hadits Aisyah yang terdapat dalam shahihain. Dalam hal ini Aisyah lebih mengetahui hal ihwal Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pada malam harinya bila dibandingkan dengan yang lain.

Pernyataan yang sama juga diungkapkan oleh Imam Az-Zaila’I dalam kitab Nashbur-Raayah:II:153.

Syaikh Al-Albani berkata, “Hadits ini memang lemah sekali, seperti yang dinyatakan iman Suyuthi dalam Al-Hawi lil Fatawaa II:73 yang menyebabkan kelemahannya adalah rawi yang bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman.”

Tentang rawi yang bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman ini, para ulama hadits berkata:

  1. Kata Imam Ahmad, Abu Dawud, Muslim, Yahya, Ibnu Main dll: Dlo’if.

  2. Kata Imam Tirmidzi: Munkarul Hadits.

  3. Kata Imam Bukhari; ulama-ulama (ahli hadits) diam tentangnya (ini satu istilah untuk rawi lemah tingkat tiga).

  4. Kata Imam Nasa’I: Matrukul Hadits

  5. Kata Abu Hatim: Dli’iful Hadits, ulama-ulama diam tentangnya dan mereka (ahli hadits) meninggalkan haditsnya.

  6. Kata Ibnu Sa’ad: adalah dia Dlo’iful Hadits

  7. Kata Imam Jauzajaniy: Orang yang putus (satu istilah untuk lemah tingkat ketiga).

  8. Kata Abu Ali Naisaburi: Bukan orang yang kuat (riwayatnya).

  9. Kata Imam Ad-Daruquthni: Dlo’if.

  10. Al-Hafidz menerangkan: bahwa ia meriwayatkan dari Al-Hakam hadits-hadits munkar.

Berdasarkan pernyataan-pernyataan ulama ahli hadits tentang rawi bernama Abu Syaibah ini, syaikh Al-Albani beranggapan bahwa haditsnya dapat disejajarkan dengan hadits Maudlu’ (palsu), karena isinya bertentangan dengan hadits Aisyah dan Jabir, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Hajar ‘Asqalani dan Zaila’I di atas, dan lebih dari itu imam Adz-Dzahabi memasukkan hadits ini dalam kitab Manakirnya (kumpulan hadits-hadits Munkar).

Imam Suyuthi setelah menyebutkan hadits riwayat Ibnu Hibban beliau berkata, “singkatnya dua puluh rakaat itu, tidak pernah dikerjakan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, adapun hadits riwayat Ibnu Hibban tersebut sudah sesuai dengan hadits Aisyah yang meyebutkan bahwa beliau tidak pernah mengerjakan lebih dari 11 rakaat, baik dalam bulan Ramadhan atau lainnya, sebab dalam riwayat Ibnu Hibban tersebut diterangkan bahwa beliau shalat tarawih delapan rakaat. Kemudian berwitir tiga rakaat, jadi jumlahnya sebelas rakaat.

Indikasi lain yang menunjukkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tidak pernah mengerjakan lebih dari sebelas rakaat adalah karena Nabi (menurut kebiasaannya) apabila mengerjakan sesuatu amalan, maka ia kerjakan dengan tetap, seperti misalnya mengqadha’ dua rakaat ba’diyah Zhuhur setelah shalat ashar, shalat ini beliau kerjakan dengan tetap, meskipun kejadiannya hanya sekali. Jadi kalau memang benar Rasululah pernah mengerjakan 20 rakaat, tentu pekerjaan itu tidak akan beliau tinggalkan sama sekali dan lebih dari itu Aisyah radyiallahu anha pun tidak akan berani membuat pernyataan yang membatas bahwa beliau tidak pernah mengerjakan lebih dari sebelas rakaat seperti disebutkan di atas.”

Kedua, dari Yazid bin Ruman, ia berkata, ‘Adalah manusia pada zaman Umar bin Khattab mereka shalat tarawih di bulan Ramadhan dua puluh tiga rakaat.” (Riwayat Imam Malik di kitabnya, Al-Muwath-tha 1/115).

Kenyataanya, hadits ini tidak shah. Ketidaksahannya ini disebabkan karena dua penyakit:

Pertama, Munqathi’ (terputus sanadnya). Sebabnya, Yazid bin Ruman yang meriwayatkan hadits ini tidak pernah bertemu dengan Umar bin Khattab. Imam Baihaqi sendiri mengatakan,” Yazid bin Ruman tidak bertemu dengan Umar, dengan demikian sanad hadits ini terputus!”

Sanad yang demikian oleh ulama-ulama ahli hadits dinamakan Munqathi’, sedang hadits yang sanadnya munqathi’ menurut ilmu Musthalah Hadits yang telah disepakati, termasuk dalam hadits Dlo’if yang tidak boleh dijadikan alasan atau dalil. Tentang tidak bertemunya Yazid bin Ruman ini dengan Umar telah diperiksa seteliti mungkin di kitab-kitab rijalul hadits yang ternyata memang benar bahwa ia tidak pernah bertemu atau sezaman dengan Umar bin Khattab.

Kedua, Riwayat diatas bertentangan dengan riwayat yag sudah shahih yaitu, dari Imam Malik dari Muhammad bin Yusuf dari Said bin Yazid, ia berkata,”Umar bin Khattab telah memerintahkan Ubai bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dariy supaya keduanya shalat mengimami manusia dengan sebelas rakaat.”

Sanad hadits ini shahih, karena:

  1. Imam Malik seorang Imam besar lagi sangat kepercayaan yang telah diterima umat riwayatnya.

  2. Muhammad bin Yusuf seorang kepercayaan yang dipakai riwayatnya oleh Imam Bukahari dan Muslim.

  3. Sedang said bin Yazid seorang sahabat kecil yang bertemu dan sezaman dengan Umar bin Khattab.

  4. Dengan demikian sanad hadits ini muttashil (bersambung).

 

Pernyataan Ulama yang Mengingkari Tambahan Rakaat

Imam Suyuthi berkata di dalam Al Mashabih fi Shalati Tarawih 2/77, “Dikatakan oleh Al Ajuri –dari rekan-rekan kami- bahwa Imam Malik menyatakan, ‘Umar mengumpulkan manusia atas 11 rakaat lebih aku sukai. Ia adalah shahabat Rasulullah.’

Al Imam Ibnul ‘Arabi di dalam syarah Tirmidzi 4/19 setelah menjelaskan riwayat-riwayat yang disumberkan dari Umar, beliau berkata,”Yang benar shalat tarawih Nabi sebanyak 11 rakaat. Adapun selain jumlah ini, maka tidak ada asalnya dan nashnya. Kalau mengharuskan adanya batasan, maka batasannya adalah shalat Nabi. Nabi tidak menambah pada Ramadhan dan selainnya di atas 11 rakaat. Inilah shalat tarawih/shalat lail, maka wajib meniru Nabi.”

Kendati ada ikhtilaf ulama tentang jumlahnya yaitu ada yang mengatakan jumlahnya 42, 36, 34, 28, 24, 20, dan 11, maka sebaiknya kita kembalikan ikhtilaf ini kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah bersabda, “Shalatlah sebagaimana aku shalat.” (Riwayat Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Permasalahan shalat tarawih insya Allah sudah kita pelajari bersama. Hal-hal yang sesuai dengan sunnah Rasulullah kita amalkan, sedang yang tidak sesuai dengan apa yang beliau tuntunkan harus kita tinggalkan.

 

Maraji’:

  • Qiyam Ramadhan, oleh Ustadz Khalid Syamhudi, dari salafyoon Online

  • Nabi Tidak Pernah Shalat Lebih Dari 11 Rakaat, oleh syaikh Al Albani, dari salafyoon Online, dikutib dari kelemahan hadits tarawih 20 rakaat, syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah, penerjemah: Luthfie Abdullah Ismail

  • Derajad Hadits Shalat Tarawih 23 Rakaat, oleh ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, dari As-Sunnah

  • Shifat Shaum Nabi, oleh syaikh Ali bin Hasan dan syaikh Salim Al-Hilali

  • Shalat Tarawih, oleh Zuhair syarif, salafy Edisi XXII/1418 H/1997 M rubrik Ahkam

Majalah Elfata vol. 5 No II/2005

 

 

2 Tanggapan

  1. Ada ulasan panjang lebar ttg sholat tarawih di sini,

    http://orgawam.wordpress.com/2007/09/09/benarkah-tarawih-20-rakaat-1/

    semoga manfaat

    Ana sudah membaca,..ana menilai blogs ini menerangkan ta’ashub(fanatik) kepada madzhab, seakan2 madzhabnya tidak anda salahnya, semua yg datang dari nya adalah benar. Wah ini manhaj agama yg salah. Boleh kita berpegang pada pendapat ulama tapi hendaklah kita juga harus mengetahui dalil2 dari pendapat tersebut dan jangan ta’ashub pada ulama, jika pendapat ulama itu benar menurut al Qur’an dan Sunnah serta pemahaman para sahabat maka kita ambil pendapat tersebut tapi jika pendapatnya itu menyalahi al Qur’an dan As Sunnah serta pemahaman para sahabat maka kita tinggalkan pendapatnya tersebut dg tetap tidak mencacat ulama tersebut. Karena ulama adalah manusia biasa yg tidak ma’shum (suci) dari kesalahan.

  2. MARHABAN YAA RAMADHAN.
    Terimaksih atas tulisan-tulisannya yang baik dan bermanfaat untuk dapat dikembangkan dan diamalkan sesuai dengan ketentuan Alloh SWT dan Contoh Rosululloh SAW.

    Semoga Alloh SWT mengizinkan dan meridhoi kita untuk memasuki dan beribadah dengan sempurna selama (full) bulan Ramadhan, sehingga dapat meraih fadhillah2/keutamaan2 yang sangat banyak dan berlipat ganda yang hanya terjadi di bulan Ramadhan yang sangat pehuh hikmah, rahmat, barokah, dan magfirah Alloh SWT. Amien… Amien… Amien…!

    Bagi Alloh SWT tidak ada yang mustahil; siapa tahu Ramadhan kali ini merupakan kesempatan yang terakhir kalinya untuk kita.

    Hati-hati dan waspadalah selalu, karena hampir selalu – selama bulan Ramadan banyak bertebaran kisah-kisah dan hadits-hadits lemah/palsu yang bertebaran di Mass media elektronik dan cetak serta dalam khotbah2/ ceramah2/ tausiah2/ pengajian2, sinetron2, dan buanyak lagi. Jangan sampai ibadah kita tertolak oleh Alloh SWT karena pengamalannya tidak sesuai dengan ketentuan Alloh SWT dan Contoh Rosululloh SAW. Naudzubillahimindzaliq.

    Selamat datang di blogs ini,…jazakallahu khoir atas tausiyahnya,…semoga kita bisa beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wassalam dan mendapat keutamaan2 di bulan ramadhan ini. Amiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: