Sepuluh Permasalahan Seputar Puasa

SEPULUH PERMASALAHAN SEPUTAR PUASA

 

1. Siapakah yang Diwajibkan Puasa?

Puasa diwajibkan atas setiap orang Islam yang baligh, berakal, mukim (tidak bepergian), mampu dan tidak ada penghalang-penghalangnya. Orang kafir tidak diwajibkan puasa dan tidak sah puasa mereka. (Majalis Ramadhan hlm43-44, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin)

2. Puasa Anak Kecil

Anak kecil tidak diwajibkan puasa sehingga baligh, akan tetapi hendaklah dilatih puasa semampunya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Pena diangkat dari tiga (golongan). Dari orang tidur sampai bangun, dari anak kecil hingga baligh dan dari orang gila sehingga sadar.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa-i dan dishahihkan oleh al Hakim)

Seorang anak dikatakan baligh apabila ada salah satu diantara empat perkara:

a. Keluar air mani.

b.Tumbuh rambut disekitar kemaluan.

c. Mencapai usia lima belas tahun.

d.Apabila wanita maka ada perkara keempat, yaitu keluarnya darah haidh.

(Majalais Ramadhan hlm44-46, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin)

3. Orang Gila atau Hilang Akal

Orang gila atau orang yang hilang akalnya tidak diwajibkan puasa dan tidak diharuskan untuk mengqadha puasanya. Apabila seseorang kadang hilang akalnya dan kadang sadar maka dia diwajibkan puasa ketika sadar saja. seseorang yang berpuasa lalu pingsan sebentar di siang hari tidaklah batal puasanya. (Majalis Ramadhan hlm46-47, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin)

4. Orang Tua yang Sudah Pikun

Orang tua yang sudah pikun dan tidak lagi bisa membedakan yang baik dan buruk tidaklah diwajibkan puasa dan tidak pula diwajibkan membayar fidyah (memberi makan orang miskin) karena dia bukan termasuk orang yang mukallaf (dibebankan untuk melaksanakan kewajiban), hukum orang seperti ini adalah seperti anak kecil. Apabila kadang pikun dan kadang sadar maka diwajibkan puasa ketika sadar saja.

(Majalis Ramadhan hlm 47, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin)

5. Musafir

Allah berfirman:

ayat115.jpg

Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari lain. Allah menginginkan kemudahan bagimu dan tidak menginginkan kesulitan bagimu.” (QS.Al Baqarah:185)

Hamzah bin Amr Al Aslamiy radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam: “Apakah boleh aku berpuasa dalam safar?-beliau Hamzah adalah orang yang banyak melakukan puasa-, maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:”Puasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata: “Aku pernah melakukan safar bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam di bulan Ramadhan, orang yang puasa mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Said Al Khudri radhiallahu ‘anhu: “Para sahabat berpendapat barangsiapa yang merasa kuat lalu puasa itu adalah baik dan barangsiapa yang merasa lemah kemudian berbuka itu juga baik.” (HR. At Tirmidzi, Al Baghawi, dengan sanad shahih)

Yang lebih afdhal bagi musafir adalah melakukan yang paling mudah baginya (berpuasa atau berbuka), dan jika sama saja keduanya maka yang lebih afdhal adalah puasa karena membebaskannya dari tanggungan (hutang puasa) dan lebih bersemanagat karena dia puasa bersama-sama manusia.

Apabila puasa itu berat baginya maka hendaklah berbuka dan tidak berpuasa ketika safar. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Bukanlah suatu kebajikan melakukan puasa dalam safar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

(Majalis Ramadhan hlm 51, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin)

6. Orang Sakit

Orang sakit yang masih bisa diharapkan kesembuhannya ada tiga macam:

a.) Orang sakit yang tidak berat baginya puasa dan tidak berbahaya, maka diwajibkan atasnya berpuasa karena tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan puasa.

b.) Orang sakit yang berat baginya puasa akan tetapi tidak berbahaya, maka hendaklah dia berbuka, sebagaimana firman Allah:

    “Dan barangsiapa yang sakit atau atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari lain. Allah menginginkan kemudahan bagimu dan tidak menginginkan kesulitan bagimu.” (QS.Al Baqarah:185)

     Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Sesungguhnya Allah senang didatangi (dikerjakan) rukhsah (keringanan) yang Dia berikan, sebagaimana Dia membenci orang yang melakukan maksiat.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, dg sanad shahih). Dalam suatu riwayat lain : “Sebagaimana Allah senang diamalkannya perkara-perkara yang diwajibkan.” (HR. Ibnu Hibban, Al Bazzar, Ath Thabrani, dg sanad shahih)

c.) Orang sakit yang berbahaya baginya puasa, maka wajib atasnya berbuka dan tidak diperbolehkan puasa, sebagaimana firman Allah:

    “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An Nisaa’:29)

     Dan firman-Nya:

   “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah:195)

   Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Sesungguhnya dirimu mempunyai hak atasmu.” (HR. Bukhari).

      Beliau SAw bersabda pula: “Tidak boleh ada madharat (bahaya) dan tidak boleh menimbulkan madharat.” (HR. Ibnu Majah, Ad Daruquthni, dg sanad hasan. Lihat Jami’ul Ulum Wal Hikam, Ibnu rajab. hadits ke 32)

7. Orang yang Tidak Mampu Lagi Berpuasa

Orang yang tidak mampu lagi berpuasa seperti orang yang sudah tua dan orang yang sakit parah dan tidak bisa lagi diharapkan kesembuhannya seperti penyakit kanker dan semacamnya, tidak wajib atas mereka berpuasa karena mereka memang sudah tidak mampu lagi puasa. Aka tetapi wajib atas mereka untuk mengganti puasanya dengan memberikan makan setiap setiap harinya kepada seorang miskin. Boleh berupa makanan pokok seperti beras sebanayk satu mud setiap harinya. (satu mud = ¼ sha’, satu sha’ di Indonesia = 2,5 Kg. Jadi satu mud kurang lebih 625 gram).

Dan boleh pula diberikan berupa makanan yang sudah siap di makan. sebagaimana dalam atsar, bahwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “Kakek dan nenek tua yang tidak mampu puasa harus memberi makan setiap harinya kepada seorang miskin.” (HR. Bukhari)

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu : “Bahwasanya beliau lemah (tidak mampu untuk puasa karena sudah tua) pada suatu tahun, kemudian beliau membuat satu wadah tsarid (nama makanan) dan mengundang 30 orang miskin (untuk makna) hingga mereka keying.” (HR. Ad daruquthni, dg sanad shahih)

8. Wanita Hamil dan Menyusui

Wanita hamil dan menyusui apabila berat bagi mereka puasa atau khawatir terhadap anaknya maka diperbolehkan untuk tidak puasa dan menggantinya dengan memberikan makan kepada orang miskin setiap harinya tanpa berkewajiban mengqadha.

Diriwayatkan Ad Daruquthni dan dishahihkannya (1/207) dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata:”Wanita hamil dan menyusui (boleh) berbuka dan tanpa mengqadha”.

Diriwayatkan Ad Daruquthni pula dari jalan lain dengan sanad jayyid: Bahwasanya isteri Ibnu Umar ketika sedang hamil bertanya bertanya kepadanya (tentang puasa), lalu beliau menjawab:”Berbukalah dan berilah makan setiap harinya satu orang miskin dan tidak usah kamu mengqadha’”.

Dari Siad bin Jubair, dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar berkata: “Wanita hamil dan menyusui (boleh) berbuka dan tanpa mengqadha.” (HR. Ad Daruquthni, dg sanad shahih. Lihat Irwa’ul Ghalil 4/17-25, karya Syaikh AL bani dan Shifat Shoum Nabi, karya Syaikh Salim Al Hilaly dan Syaikh Ali Hasa hal 80-85).

 

9. Wanita Haidh dan Nifas

Wanita haidh dan nifas diharamkan untuk puasa dan tidak sah puasa mereka. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda tentang wanita: “Bukankah jika haidh dia tidak shalat dan tidak puasa?” Kami katakan:”Ya”. Beliau bersabda: “Itulah (bukti) kurang agamanya.” (HR. Muslim)

Diwajibkan atas mereka untuk mengqadha puasa. Perintah mengqadha puasa terdapat dalam riwayat Mu’adzah, dia berkata: “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah radhiallahu anha:”Mengapa orang haidh mengqadha puasa tetapi tidak mengqadha shalat?” ‘Aisyah radhiallahu anha balik bertanya:”Apakah engkau wanita Haruriy?” Aku menjawab: “Aku bukan wanita Haruriy, tetapi hanya (sekedar) bertanya.” ‘Aisyah radhiallahu anha berkata: “Kami juga haidh pada masa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, tetapi kami hanya diperintahkan (oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam) untk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Haruriy nisbat kepada harura’ (yaitu) negeri yang jaraknya 2 mil dari Kufah, orang yang beraqidah Khawarij disebut Haruriy karena kelompok pertama dari mereka yang memberontak kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu ada di negeri tersebut.

10. Orang yang Perlu Berbuka Untuk Menolong Orang Lain

Adakalanya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kebakaran, tenggelam dan semacamnya sehingga memmerlukan orang lain untuk menolong mereka dan yang menolong tidak akan mampu melaksanakan tugasnya apabila dalam keadaan puasa dan ia pun harus berbuka agar kuat dan bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, maka orang yang menolong tersebut diperbolehkan berbuka dan bahkan diwajibkan demi menolong orang lain dari kebinasaan. Demikian juga seseorang yang berjihad fi sabilillah dan membutuhkan makan dan minum agar kuat diperbolehkan berbuka dan menggantinya (qadha) pada hari yang lain. (Majalis Ramadhan hal 59-60, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin)

 

Maraji’: Kitab Fiqih Ramadhan, oleh Ustadz Abdullah Sholeh Al Hadromi, penerbit Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khatimah, Malang

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: