KITAB SYARAH BULUGHUL MARAM THAHAARAH

KITAB SYARAH BULUGHUL MARAM

THAHAARAH

BAB AIR

Download PDF

Hadits Pertama

ayat1.jpg

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda tentang laut: “Airnya suci dan bangkainya halal.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam empat dan Ibnu Abi Syaibah. Lafazh ini adalah miliknya. Ibnu Khuzaimah dan At Tirmidzi menshahihkan hadits ini. (HR. Imam Malik, Syafi’i dan Imam Ahmad)

Peringkat Hadits

Hadits ini shahih. At Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits hasan shahih yang aku tanyakan kepada Imam Bukhari, Imam Bukhari berkata: “Hadits ini shahih.” Az Zarqani di dalam Syarah Al Muwaththa’ berkata: “Hadits ini merupakan salah satu prinsip dasar agama Islam yang diterima oleh umat Islam.” Sekelompok ulama telah menshahihkan hadits ini, di antara mereka: Al Bukhari, Hakim, Ibnu Hiban, Al Khaththabi, Ibnu Khuzaimah, Ad Daruqutni, Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah, Ibnu Daqiq Al ‘Id, Ibnu Katsir, dan Ibnu Hajar serta ulama lainnya yang lebih dari 36 ulama.

Kosakata Hadits

Al Bahr (laut) adalah lawan kata dari Al Barr (daratan) yaitu daratan yang luas yang terdiri dari air asin. Al Bahr jamaknya abhor, bihar dan buhur. Dinamakan bahr karena dalam dan luasnya.

Ath Thuhuur adalah nama untuk air yang suci substansinya dan dapat mensucikan yang lainnya. Al dalam lafazh Ath Thuhuur tidak menunjukkan makna qashr (keterbatasan). Oleh karena itu ia tidak menafikan kesucian yang lain, karena keberadaannya sebagai jawaban dari sebuah pertanyaan. Maka Al tersebut berfungsi menjelaskan makna yang sebenarnya.

Air laut yang mengandung banyak materi zat garam. Potensi zat garam disini menjadi penghamtar listrik yang lebih besar, yang terdapat dalam kandungan air laut. Dengan demikian ia lebih mampu dari air lainnya dalam menghilangkan najis dan menghilangkan hadats. Di dalam penciptaannya Alloh Ta’ala memiliki banyak rahasia.

Al Hillu adalah lawan dari kata haram. Maksudnya, adalah halal sebagaimana yang disebutkan di dalam riwayat Ad Daruquthni.

Maitatuhu disyariatkan yaitu hewan yang tidak tersentuh oleh sembilihan yang disyariatkan. Kalimat maitatuhu adalah fa’il dari isim mashdar al hillu, yang dimaksud adalah bangkai semua hewan yang mati, yang tidak bisa hidup kecuali di laut, dan bukan semua yang mati dilaut.

Hal-Hal Penting dari hadits

1.     Kesucian air laut bersifat mutlak tanpa ada perincian. Ia suci secara subtansi dan dapat mensucikan. Seluruh ulama menyatakan seperti ini, hanya saja ada sedikit ulama yang tidak sependapat, tetapi pendapat tersebut tidak kuat.

2.     Air laut itu dapat mengangkat hadats besar dan kecil serta menghilangkan najis yang muncul pada tempat yang suci, baik pada badan, pakaian, suatu tempat atau yang lainnya.

3.     Air apabila rasa, warna, dan bau air berubah karena sesuatu yang suci, maka air tetap berada dalam kesuciannya, selagi air masih tetap pada posisi aslinya sekalipun sangat asin, panas dan sangat dingin.

4.     Bangkai hewan laut hukumnya halal. Yang dimaksud dengan bangkai adalah hewan yang mati yang tidak hidup kecuali di laut.

5.     Hadits ini menunjukkan bahwa tidak wajib membawa air yang cukup untuk bersuci, walaupun ia mampu membawanya, karena para sahabat memberitahu bahwa mereka membawa sedikit air saja.

6.     Ungkapan Ath-thahuru ma’uhu dengan alif lam (ma’rifat) tidak menafikan kesucian jenis air lainnya, karena keberadaannya hanya sebagai jawaban sebuah pertanyaan tentang air laut. Ia telah di takhshish oleh manthuq yang benar.

7.     Keutamaan menambahkan fatwa dari suatu pertanyaan. Hal tersebut apabila seorang mufti berasumsi bahwa si penanya barangkali tidak mengetahui hukum masalah ini atau sekedar mencoba, sebagaimana pada bangkai hewan laut bagi para pelaut.

Ibnu Arabi berkata: Hal tersebut termasuk fatwa yang baik yang didatangkan untuk menjawab lebih dari pertanyaan yang diminta, sebagai sebuah kesempurnaan dan pemberitahuan apa yang tidak ditanyakan. Hal ini menjadi lebih kuat ketika adanya kebutuhan terhadap hukum sebagaimana disini dan hal ini tidak dianggap sebagai pemaksaan sesuatu yang tidak penting.

8.     Imam Syafi’i berkata: “Hadits ini adalah separuh dari pengetahuan bersuci.” Ibnul Mulaqin berkata, “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung dan merupakan dasar bersuci yang mencakup banyak hukum dan kaidah-kaidah yang penting..”

9.      Perbedaan pendapat para ulama.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hewan laut hukumnya tidak halal kecuali ikan dan seluruh jenisnya. Adapun selain ikan yang menyerupai hewan daratan seperti ular, anjing, babi dan sebagainya, maka menurut Imam Abu Hanifah tidak halal.

Imam Ahmad, menurut yang masyhur dari madzhabnya berpendapat diperbolehkannya seluruh jenis hewan laut kecuali katak, ular, dan buaya. Katak dan ular merupakan jenis hewan yang kotok. Sementara buaya adalah binatang bertaring yang dapat digunakan memangsa.

Dua Imam madzhab lainnya, Imam Malik dan Syafi’i membolehkan seluruh jenis hewan laut tanpa pengecualian. Keduanya berdalil dengan firman Allah Ta’ala, “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut.” (QS. Al Ma’idah:96) serta sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam,

“Dihalalkan bagi kamu dua bangkai, (yaitu) belalang dan ikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Didalam kamus dikatakan bahwa yang dimaksud dengan al hut adalah ikan. Juga di dalam hadits bab ini disebutkan “yang bangkainya halal” maka pendapat inilah yang lebih kuat.

Di kutip dari kitab “Syarah Bulughul Maram”, penulis Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, penerbit Pustaka Azzam, cetakan tahun 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: