Menyikapi Perselisihan Ulama

MENYIKAPI PERSELISIHAN ULAMA

Oleh: Ustadz Mukhlis Abu Dzar

Download PDF

Terungkap dengan sangat jelas fenomena dan gambaran tentang “malapetaka besar” yang menimpa kaum muslimin pada saat ini, dan memecah belah persatuan mereka, melemahkan kemuliaan dan kehormatan mereka, serta memporak-porandakan barisan-barisan mereka. Salah satu sisi fitnah (malapetaka) ini telah menimpa lubuk hati sejumlah besar da’i dan penuntut ilmu. Sehingga-sangat disayangkan-mereka pun terpecah dan terbagi, sebagian mencela sebagian yang lain disebabkan oleh sekedar terjadinya perselisihan dalam masalah fiqih, salah dalam menghukumi perkara yang bersifat furu’iyyah (cabang); sedangkan yang lainnya mentahdzir, mengkritik, membantah dan seterusnya secara membabi buta tanpa menengok maslahat dan madharatnya. Lalu, bagaimanakah sikap kita seharusnya ketika menjumpai terjadinya perselisihan di antara para ulama? Simaklah pembahasan berikut ini yang menjelaskan tentang seluk beluk ikhtilaf, macam-macamnya dan bagaimana sikap kita ketika menjumpai khilaf ulama. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin

Macam-macam Ikhtilah (Perselisihan)

1. Ikhtilaf Tercela

Jenis-jenis ikhtilaf tercela adalah:

a.) Ikhtilaf yang kedua belah pihak dicela oleh Alloh, baik dalam alQur’an maupun dalam hadits-hadits shohih. Sebagaimana firman Alloh tentang ikhtilafnya orang-orang Nashoro/Nasrani (artinya):

Maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat.” (QS. Al Maidah:14)

Demikian juga ikhtilafnya ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu) dan ahlul bid’ah dalam hal-hal yang mereka perselisihkan. Alloh Ta’ala berfirman (artinya):

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka.” (QS. Al An’am:159)

b.) Ikhtilaf yang salah satu pihak dicela dan satu lagi dipuji (karena benar). Inilah yang distilahkan oleh para ulama dengan ikhtilaf tadhodh (perselisihan pendapat kontradiktif(saling bertentangan)) yaitu salah satu dari dua pendapat adalah haq dan yang satu lagi adalah bathil. Alloh telah berfirman (artinya):

Akan tetapi mereka berselisih, maka ada diantara mereka yang beriman dan ada (pula) di anatar mereka yang kafir. Seandainya Alloh menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan.” (QS. Al Baqarah:253)

2. Ikhtilaf yang Boleh

Adapun ikhtilaf yang diperbolehkan adalah ikhtilafnya dua orang mujtahid dalam perkara yang diperbolehkan ijtihad di dalamnya. Di antara rahmat dan inayah Alloh kepada hamba-Nya yang beriman adalah Alloh tidak memberikan beban dosa kepada seorang mujtahid yang salah, bahkan dai mendapatkan pahala karena kesungguhannya dalam mencari kebenaran tentang hukum Alloh. Alloh berfirman (artinya):

Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu salah padanya.” (QS. AL Ahzab:5)

Dari Amr bin al Ash radhiallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (artinya):

Apabila ada seorang hakim mengadili maka ia berijtihad, lalu ia benar (dalam ijtihadnya) maka ia mendapatkan dua pahala, apapbila ia mengadili maka ia berijtihad, lalu ia salah maka ia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari 7352 dan Muslim 1716)

Memahami Perselisihan Pendapat Para Ulama Menurut al-Qur’an, Sunnah dan Manhaj Salafush Shalih

Kaidah-kaidah untuk memahami ikhtilaf (perselisihan pendapat):

  • Ikhtilaf adalah perkara yang kauni (sunnahtullah), sedangkan mencegahnya merupakan perkara yang syar’i.

Alloh telah mentaqdirkan umat ini berpecah belah sebagaimana halnya (kaum) ahli kitab sebelumnya telah berpecah belah. Alloh Ta’ala berfirman:

Jikalau Rabbmu menghendaki, tentau Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu, dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka.” (QS. Hud:118-119)

Kendati perpecahan ini terjadi sesuai dengan sunnahtullah yang kauni, namun (sebenarnya) Alloh melarang terjadinya perpecahan ini dalam al-qur’an dan sunnah Nabi-Nya, memerintahkan supaya berpegang teguh pada jalan Firqatun Najiyyah al Manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan). Sebabnya, perpecahan merupakan perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Perhatikan firman Alloh yang menyatakan tentang larangan tasyabbuh (menyerupai) umat-umat terdahulu yang mana mereka terpecah belah (artinya):

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Ali Imron:105)

  • Tidak Semua Ikhtilaf adalah “Iftiroq”

“Iftiroq” menurut bahasa berasal dari kata “mufaroqoh” yang artinya perpecahan dan perpisahan.

Sedangkan menurut istilah para ulama, “iftiroq” adalah keluar dari Ahlus Sunnah wal jama’ah pada salah satu ushul (pokok) dari perkara-perkara ushul yang mendasar, baik dalam aqidah ataupun amaliah.

Perbedaan antara ikhtilaf yang diperbolehkan dengan iftiroq:

1.) Iftiroq tidak akan terjadi kecuali pada ushul kubro kulliyyah (pokok-pokok yang besar dan mendasar) yang tidak ada peluang untuk diperselisihkan dan telah jelas berdasarkan nash qoth’i (pasti) atau ijma’ (kesepakatan) atau telah jelas sebagai manhaj ilmiah Ahlus Sunnah wal jama’ah yang tidak lagi diperselisihkan.

2.) Ikhtilaf (perselisihan pendapat) yang diperbolehkan itu bersumber dari ijtihad dan niat yang baik, dan orang yang salah akan diberi pahala apabila ia mencari kebenaran. Sedangkan iftiroq (perpecahan) tidaklah terjadi dari kesungguh-sungguhan dalam mencari kebenaran dan niat yang baik Akan tetapi, ia timbul dari mengikuti hawa nafsu.

Sikap Seorang Da’i Ketika Menjumpai Perbedaan Pendapat

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya tentang sikap seorang da’i yang menjumpai perbendaan pendapat: “Syaikh yang terhormat, banyak pernedaan pendapat yang terjadi di antara para aktifis dakwah yang mengakibatkan kegagalan dan sirnanya kekuatan. Hal ini banyak terjadi sebagai akibat tidak mengetahui etika berbeda pendapat. Apa saran yang Syaikh sampaikan yang berkaitan denga masalah ini.?”

Maka beliau rahimahullah menjawab:

“Yang saya nasehatkan kepada semua saudara-saudara saya para ahlul ‘ilmi dan para da’i adalah menempuh metode yang baik, lembut dalam berdakwah, dan bersikap halus dalam masalah-masalah yang terjadi perbedaan pendapat saat mengungkapkan pandangan dan pendapat. Jangan sampai terbawa oleh emosi dan kekerasan dengan melontarkan kalimat-kalimat yang tidak pantas diucapkan, yang bisa mengakibatkan perpecahan, perselisihan, saling membenci dan saling menjauhi. Seharusnya seorang da’i dan pendidik menempuh metode-metode yang bermanfaat, halus dalam bertutur kata, sehingga ucapannya bisa diterima dan hati pun tidak saling menjauhi, sebagaimana Alloh berfirman kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam (artinya):

Maka disebabkan rahmat dari Alloh-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran:159)

Maka seoarang da’i dan pendidik hendaknya menempuh metode-metode yang bermanfaat serta menghindari kekerasan dan kekasaran karena hal itu bisa menyebabkan ditolaknya kebenaran serta bisa menimbulkan perselisihan dan perpecahan di antara sesama kaum muslimin.

(Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah 5/155-156).

Oleh karena itu, hendaklah kita berhati-hati dalam menyikapi perselisihan para ulama, jangan sampai mengambil pendapat dari salah satu di antara keduanya hanya sekedar demi mengikuti hawa nafsu belaka tanpa menengok kepada dalil-dalil lebih kuat yang datang dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan kita memohon kepada Alloh semoga umat Islam pada saat ini disatukan kembali dalam lingkaran al-Qur’an dan as-Sunnah. Amin. Wallahu A’lam.

Sumber: Buletin Al Furqan Tahun ke-2 Vol.9 No. 4, Muharram 1429H, di terbitkan oleh Majalah Al Furqan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: