Yasinan: Bid’ah yang Dianggap Sunnah

YASINAN: BID’AH YANG DI ANGGAP SUNNAH

Oleh:   Muhammad Ikrar Yamin

Download PDF

“Ayo pak kita yasinan di rumahnya pak RT!” Kegiatan yang sudah menjadi tradisi di masyarakat kita ini biasanya diisi dengan membaca surat Yasin secara bersama-sama. Mereka bermaksud mengirim pahala bacaan tersebut kepada si mayit untuk meringankan penderitaannya. Timbang-timbang, daripada berkumpul untuk bermain catur, kartu apalagi berjudi, kan lebih baik digunakan untuk membaca Al-Qur’an (khususnya surat Yasin). Memang sepintas jika dipertimbangkan menurut akal pernyataan itu benar namun kalau dicermati lagi ternyata ini merupakan kekeliruan.

Al-Qur’an Untuk Orang Hidup

Al-Qur’an diturunkan Alloh Ta’ala kepada Nabi Muhammad shollallohu’alaihi wa sallam sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira dan peringatan. Maka kewajiban orang-orang yang beriman untuk membacanya, merenungkannya, memahaminya, mengimaninya, mengamalkan dan berhukum dengannya. Hikmah ini tidak akan diperoleh seseorang yang sudah mati. Bahkan mendengar saja mereka tidak mampu. “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar.” (Terjemah An-Nahl: 80). Alloh Ta’ala juga berfirman di dalam surat Yasin tentang hikmah tersebut yang artinya, “Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan supaya dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup.” (Yasin: 69-70). Alloh berfirman yang artinya, “Sesungguhnya seseorang itu tidak akan menanggung dosa seseorang yang lain dan bahwasanya manusia tidak akan memperolehi ganjaran melainkan apa yang telah ia kerjakan.” (An-Najm: 38-39). Berkata Al-Hafizh Imam Ibnu Katsir rohimahulloh: “Melalui ayat yang mulia ini, Imam Syafi’i rohimahulloh dan para pengikutnya menetapkan bahwa pahala bacaan (Al-Qur’an) dan hadiah pahala tidak sampai kepada orang yang mati, karena bacaan tersebut bukan dari amal mereka dan bukan usaha mereka. Oleh karena itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan umatnya, mendesak mereka untuk melakukan perkara tersebut dan tidak pula menunjuk hal tersebut (menghadiahkan bacaan kepada orang yang mati) walaupun hanya dengan sebuah dalil pun.”

Adapun dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan surat Yasin jika dibaca secara khusus tidak dapat dijadikan hujjah. Membaca surat Yasin pada malam tertentu, saat menjelang atau sesudah kematian seseorang tidak pernah dituntunkan oleh syari’at Islam. Bahkan seluruh hadits yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Yasin tidak ada yang sahih sebagaimana ditegaskan oleh Al Imam Ad Daruquthni.

Islam telah menunjukkan hal yang dapat dilakukan oleh mereka yang telah ditinggal mati oleh teman, kerabat atau keluarganya yaitu dengan mendo’akannya agar segala dosa mereka diampuni dan ditempatkan di surga Alloh subhanahu wa ta’ala. Sedangkan jika yang meninggal adalah orang tua, maka termasuk amal yang tidak terputus dari orang tua adalah do’a anak yang sholih karena anak termasuk hasil usaha seseorang semasa di dunia.

Biar Sederhana Yang Penting Ada Tuntunannya

Jadi, tidak perlu repot-repot mengadakan kenduri, yasinan dan perbuatan lainnya yang tidak ada tuntunannya dari Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam. Bahkan apabila dikaitkan dengan waktu malam Jum’at, maka ada larangan khusus dari Rosululloh shollalohu’alaihi wa sallam yakni seperti yang termaktub dalam sabdanya, “Dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan pada malam-malam yang lain.” (HR. Muslim). Bukankah lebih baik beribadah sedikit namun ada dalilnya dan istiqomah mengerjakannya dibanding banyak beribadah tapi sia-sia? Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim). Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala melindungi kita semua dari hal-hal yang menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan. Wallohu a’lam bishshowab.

***

Tingkat pembahasan: Dasar

Penulis: Muhammad Ikrar Yamin

Sumber: http://muslim.or.id/artikel/manhaj/yasinan-bidah-yang-dianggap-sunnah.html

9 Tanggapan

  1. Saya sangat yakin anda tidak melarang orang baca surat YASIN( al quran). hadis yang anda bawakan jangan dianggab melarang baca YASIN tiap mlm jumat, tapi duartikan BACA SURAT2 YG LAIN PADA HARI YG LAIN. Kalau anda baca IHYA AL GHOZALI yg sedang kan seminggu hattam. AHAD AL BAQOROH-AL MAIDAH, SENIN AL AN’AM-HUD dst ..KAMIS AL ANKABUT-SHAD DISINILAH ADA SURAT YASIN . JANGAN DILARANG LURUSKAN NIATNYA PERBAIKI TAJWID DAN TARTILNYA TINGKATKAN JML BACAANNYA .kalau anda termasuk yang hattam 3 hari sekali atau sebulan sekali tentu surat yasin tidak jatuh pada hari malam jumat gitu lho

  2. baca yassin kx dilarang khan termasuk alquran ,yassinan termasuk bid’ah hassanah jd tidak terlalu berat untuk dipertentangkan

    • Mbak. Rhen. lho bid’ah kok ada hasanah. Tlng kasih dalilnya, soalnya saya orang awam

      • BID’AH itu suatu yang tidak ada di jaman NABI (RASUlAllAH).Motor itu bisa di bilang BID’AH.karna tidak ada di jaman NABI.tetapi BID’AH yang satu ini adalah BID’AH HASANAH BID’AH yang baik…? yang penting tidak merugikan orang lain.

        Maaf cuma singkat kasi taunya.kalau kamu bisa menangkepnya kamu pasti bakalan paham kok.
        Kalau kurang jelas telepon saya aja ya.Ada kok nomernya di info facebook..

    • Yang bilang Yasinan itu BID’AH..itu namanya orang mendet namanya.
      Dan jangan bilang juga JIARAH itu BID’AH dan
      TAHLILAN itu BID’AH.

      Bakalan itu orang hidupnya engga bakalan BERKAH seumur hidup…

  3. segala amalan yg tiada syariatnya,mk ia tertolak…
    segala sesuatu yg ditmbhkn dlm hal ibdah yg tiada tntunannya adlh bidah,semua bidah adlh sesat,semua yg sesat tmptny d naar.naudzubillahh mindzalik

  4. Tadinya ana fikir sgala sesuatu itu bila dikerjakan baik dan berguna maka tidak ada permasalahannya,, tetapi setelah dikaji,, Qt memang harus kembali pd Al Qur’an n hadist. Dan tetap mnjalankannya berasarkan Syari;at Islam..

  5. klo ilmu tanpa guru ya maklum,, lha wong Ilmunya cuma buku..
    beda klo Ilmu yg digurukan kpd para kiai dan ulama yg Ilmunya digurukan dan bersambung spt di pesantren ASWAJA mrk psti g bakalan berani bilang klo semua bid’ah itu dholalah krn dalam Ilmu nahwu shorof kt “Kullu” tdk mutlak artinya ” semua” ..hal spt ini jga terdapat dlm Al qur’an begtu pula berlaku pada hadits ini…jd seseorang g terlalu ekstrim dlm menanggapi hal ini.

  6. Sebenar benar ucapan ucapan adalah firman Allah subhanwata ‘ala
    Sebaik-baik poetunjuk adalah petunjuk rasulullah shollahu ‘alaihi wasallam
    Seburuk-buruk perbuatan adalah yang diada-adakan
    setiap yang diada adakan adalah bid’ah
    Semua Bid’ah adalah kesesatan
    dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka
    (shahih muslim dari jabir radhi Allahu anhu)

    Apakah anda tidak melihat kata
    SETIAP
    kalo setiap artinya tidak ada CELAH
    jadi artinya SEMUA tanpa terkecuali
    tidak ada namanya BID’AH Hasanah
    wallahu a’lam

    Kalo beribadah harus ada syariatnya
    klo tidak ada syariatnya (tuntunannya) kenapa harus dikerjakan
    apakah kamu menganggap rasulullah tidak lengkap mengajarkan islam kepadamu

    di haji wada, rasulullah telah berkata bahwa agama islam ini sudah sempurna, kenapa kamu ingin tambah-tambah
    lagi

    sadarlah, beribadah itu bukan berdasarkan dengan perasaan dan emosi tetapi berdasarkan dengan ilmu din yang benar.

    jika ingin beramal harus ada hujjahnya

    kita di sini mencari kebenaran bukan perdebatan

    ingat jangan mengada ada
    (mengada-ada dalam pengertian di sini adalah ibadah)
    apakah kamu siap untuk menduduki kursi di neraka nanti

    barang siapa yang mengada-ada dalam urusan kami (agama)
    yang bukan darinya maka ia tertolak (hadits Aisyah radhi Allahuanha)

    Perlu di liat kebenarannya
    Satu Hujjah saja yang shahih yang benar-benar datang dari rasulullah maka ibadah itu bisa dilaksanakan
    wallahu a’lam

    Ingatlah setiap apa yang kita buat akan dipertanggungjawabkan
    nanti

    Bisakan anda memberikan hujjah wahai orang yang menggangap yasinan di hari jum’at dan tahlilan itu adalah datang dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Apa derajat haditsnya

    Sikapi dengan baik hal itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: