Objektifitas Antara Keadilan Salaf dan Pengingkaran Kholaf

OBJEKTIFITAS ANTARA KEADILAN SALAF

DAN PENGINGKARAN KHOLAF

Oleh : Syaikh Mufti Abdurrahman al Qassas

Download PDF

Sungguh mengherankan sebagian umat ini. Pendahulu (salaf) mereka di atas puncak akhlak, sementara sebagian penerusnya (khalaf) berada di titik terendah dari padanya. Salaf terbang tinggi di langit ketakwaan dan kewira’ian, sementara khalafnya terbenam di dalam kotoran dosa dan permusuhan. Salafnya berhukum secara inshaf (adil, obyektif) sekalipun atas diri mereka sendiri, sedangkan khalafnya mengingkari obyektifitas dalam pedihnya perpecahan dan permusuhan. Para pendahulu kita telah belajar dan terdidik di atas firman Alloh Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap seuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al Maidah: 8 )

Dalam ayat diatas Alloh menyatakan bahwa janganlah permusuhan terhadap suatu kaum – maksudnya permusuhan dan sebab-sebabnya – menjadikan dan mendorong kalian untuk menceburkan diri dengan masuk ke dalam kubangan lumpur keburukan akhlak dengan berbuat melampaui batas terhadap mereka. Atau kalian mengatakan tentang mereka dan sifat-sofat mereka apa yang tidak ada pada diri mereka, atau kalian berbuat zhalim dengan perkataan dan perbuatan. Ini semua menyelisihi ketaqwaan. Dan kadang itu termasuk sikap ghuluw (berlebih-lebihan).

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “ Sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam : ‘Jauhilah oleh kalian perbuatan ghuluw dalam beragama.’ Adalah bentuk umum dengan segala macam bentuk ghuluw, apakah itu dalam keyakinan, dan perbuatan. Ghuluw adalah melampaui batas dengan berlebihan dalam memuji sesuatu atau berlebihan dalam mencaci sesuatu yang bukan pada tempatnya.”

Al Mushthafa Shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengajarkan obyektifitas dan adil dalam permusuhan. Inilah dia Hatib ibn Abi Balta’ah, dia pergi menuju Quraisy sebelum fathu Makkah. Dia mengabarkan kepada mereka bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersiap-siap untuk memerangi mereka. Maka tatkala perbuatannya terbongkar, Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, azinkan aku untuk membunuhnya.” Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Tidak, dia telah mengikuti peperagan Badar, dan sesungguhnya engkau tidak tahu, boleh jadi Alloh telah mengetahui para pengikut perang Badar, lalu berfirman: “Berbuatlah sesuka kalian, karena sesungguhnya aku telah mengampuni kalian.”” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam memanggil Hatib lalu menanyainya mengapa dia melakukan yang demikian. Maka dia menjawab, “Saya ingin memiliki jas pada orang-orang Quraisy agar mereka menjaga keluargaku di sana, bersamaan dengan itu, aku tahu bahwa Alloh pastilah memenangkan anda. Dan tidaklah aku melakukannya karena kufur, tidak juga karena murtad, tidak juga karena ridho dengan kekufuran setelah Islam.” Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam memaafkan dia dan membebaskannya.

Oleh karena itulah obyektifitas dan adil pada saat bermusuhan adalah sebauh karakter dari karakter-karakter para sahabat radhiallahu ‘anhum, dan sebuah akhlak dari akhlak-akhlak mereka yang mereka mengetahuinya dari panglima dan pendidik mereka Rasululllah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Inilah dia Aisyah radhiallahu’anha, permusuhannya dengan orang yang telah membunuh saudaranya tidak menghalanginya dari mengatakan kebenaran. Disebutkankan dari Abdurrahman bin Syamasah dia berkata: “Aku masuk menemui Aisyah radhiallahu ‘anha, maka dia berkata: “Dari mana engkau?” Kukatakan: “Dari penduduk Mesir”. Dia berkata: ”Bagaimana engkau mendapati Ibnu Khadij dalam peperangan kalian ini?” Kukatakan: “Sebaik-baik pemimpin, tidaklah salah seorang laki-laki di antara kami yang kuda atau ontanya terhenti (mati) kecuali dia menggantinya dengan seekor onta, dan tidak pula dia kehilangan seorang budak kecuali dia ganti dengan seorang budak.” Dia berkata: “Sesungguhnya pembunuhannya terhadap saudaraku tidak menghalangiku untuk menceritakan kepada kalian apa yang kudengar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, sesungguhnya aku mendengar beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Ya Alloh, barangsiapa mengurusi suatu urusan dari umatku, kemudian dia berbuat lembut kepada mereka, maka berbuat lembutlah kepadanya. Dan barangsiapa berbuat keras menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia.” (Disebutkan oleh Adz Dzahabi dalam Siyar (3/38), HR. Muslim (1828))

Tudaklah akhlak yang demikian terbatas pada para sahabat dan tabi’an saja bahkan itu adalah akhlak salafus shalih. Mereka membuat sebaik-baik contoh amali bahwa manusia dengan karakter jiwa yang telah diciptakan oleh Alloh atasnya mampu untuk naik ke derajat tinggi dan akhlak yang agung tersebut. Inilah dia Ahmad bin Hambal rahimahullah, dia mendengar ucapan Harist al Muhasibi yang menasehati para sahabatnya dalam hal zuhud, maka menangislah Ahmad bin Hambal rahimahullah dengan tangisan yang menyayat. Maka berkatalah Isma’il bin Ishaq as Siraj kepadanya: “Bagaimana pendapatmu wahai Abu Abdillah?” Maka Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Belum pernah aku melihat orang berbicara tentang zuhud seperti laki-laki ini, dan aku belum pernah melihat orang-orang seperti mereka, namun aku sarankan agar kamu tidak berkumpul bersama mereka.” (al Bidayah wan Nihayah oleh Inu Katsir (10/344) secara ringkas).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Imam Ahmad tidak menyukainya, karena di adalam ucapan-ucapan mereka terdapat kesan terlalu zuhud (meninggalkan kesenangan dunia secara berlebihan) serta hidup susah yang tidak diajarkan oleh syari’at, perincian dalam bermuhasabah secara berlebihan yang tidak diperintahkan.

Akan tetapi kewira’ian dan obyektifitasnya, Imam Ahmad tidak menghalanginya untuk berkata: “Belum pernah aku melihat orang-orang seperti mereka- yakni ketaqwaan dan kewira’ian mereka-namun sikap mereka itu sungguh berat bagi orang awam dan tidak sesuai dengan sunnah al mushthafa Shalallahu’alaihi wassalam.

Inilah dia menteri Ibnu Hubairah, menteri Khalifah ‘Abbasy al Mustanjid, dia pernah berkata pada suatu hari kepada salah seorang ahli fiqih dengan kalimat yang buruk. Dia berkata kepadanya, “Wahai keledai.” Kemudian dia menyesal dan berkata: “Aku ingin engkau mengatakan kepadaku apa yang telah kukatakan kepadamu.” Namun lelaki itu menolaknya, maka dia memberikan kepada lelaki itu dua ratus dinar sebagai tanda perdamaian di anatar mereka berdua. (Siyar, oleh adz Dzahabi (20/428), demikian pula pada al Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir (12/269) secara ringkas). Sungguh hebat sikap inshaf (Obyektifitas), takwa, dan kewira’ian dari menteri agung di negerinya, yang telah membuka menguasai dunia dengan keseluruhannya.

Aku tutup perjalanan kehidupan yang harum dan akhlak yang mulai ini dengan penutup misik, yaitu kisah raja yang agung lagi adil, Mahmud bin Subaktakin, penguasa negeri Ghaznah, dan penakluk Negeri India. Dia adalah seorang yang adil dan obyektif. Pernah seorang laki-laki mengadu kepadanya bahwa putra dari saudari sang raja senantiasa menyatroni rumah dan keluarga setiap waktu. Dia mengeluarkannya dari rumah dan memperkosa istrinya. Dia kebingungan dengan urusannya, setiap kali dia mengadukan kepada salah satu aparat, tidak ada satupun yang bisa menjembataninya karena takut dan segan dengan sang raja. Maka tatkala sang raja mendengarnya, dia sangat murka. Dan berkata kepada lelaki itu: “Celaka, kapan saja dia datang kepadamu, datangilah aku, dan beri tahu aku, jangan sekali-kali engkau mendengarkan seorangpun yang menghalangimu untuk sampai bertemu denganku. Seandainya dia datang di malam hari,maka datangilah aku dan beritahu aku.” Kemudian sang raja menuju kepada pengawal dan berkata kepada mereka: “Sesungguhnya laki-laki ini, kapan saja dia datang menemuiku, tidak boleh seorangpun melarangannya untuk sampai bertemu denganku, tidak di waktu malam atau siang.” Maka pergilah lelaki itu dengan bergembira. Semalam atau dua malam sesudah itu datanglah pemuda tersebut dan mengusirnya secara paksa dari rumahnya dan mengencani serta memperkosa istrinya. Maka diapun pergi sambil menangis menuju istana sang Raja. Dikatakanlah kepadanya:

“Sesungguhnya sang raja sedang tidur.” Dia menjawab: “Sudah disampaikan kepada kalian bahwa aku tidak akan dilarang menemui beliau baik di waktu malam maupun siang.”

Kemudian merekapun memberi tahu sang raja, maka keluarlah sang raja bersama lelaki itu seorang diri tanpa seorangpun menyertainya hingga mendatangi rumah lelaki itu. Sang raja melihat kepada seorang pemuda sementara dia bersama dengan istri laki-laki tadi dalam satu ranjang, dan pada keduanya ada lilin yang menyala. Maka majulah sang raja, lalu mematikan cahaya, kemudian datang dan memotong kepala pemuda tersebut, dan berkata kepada laki-laki itu: “ Celaka,berikan aku satu teguk air.” Maka diapun mendatangkannya lalu minum, kemudian sang rajapun beranjak pergi. Maka berkatalah lelaki itu kepadanya: “Demi Alloh, kenapa anda mematikan lilin?” Sang raja menjawab: “Celaka kamu, sesungguhnya dia adalah putra saudariku, dan aku tidak suka melihat wajahnya saat aku memotong kepalanya.” Lalu dia bertanya lagi: “ Kenapa anda cepat-cepat meminta air?” Sang raja menjawab: “Sesungguhnya aku telah bertekad dalam diriku sejak engkau kabarkan urusanmu itu kepadaku bahwa aku tidak akan makan dan minum sesuatupun hingga aku menolongmu dan melaksanakan hakmu. Aku tadi sangat kehausan sepanjang hari ini hingga apa yang telah engkau lihat. Maka lelaki itu berpamitan kepadanya dan sang rajapun kembali ke tempatnya tanpa ada seorangpun yang menyadarinya.” (al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir (12/13) secara ringkas).

Itu adalah kaum yang mengetahui sikap wira’I, obyektif dan adil terhadap diri sendiri dan kerabatnya, maka mereka dapat memimpin dunia.

Pada hari ini, kita lihat orang-orang khalaf (belakangan) jika dia marah kepada suadaranya karena sebab sepele, atau hanya karena hilangnya satu bagian dari bagian-bagian dunia yang fana ini, dia melakukan perbuatan aneh, meluncurkan kata-kata yang keji, memberikan sifat kepadanya dengan sifat-sifat yang terburuk, menjulukinya dengan julukan yang keji, tidak memperhatikan keadilan dan obyektifitas.

Semua ini adalah hasud, hati mereka sakit. Seandainya diantara mereka dituntut untuk melaksanakan tugas orang yang mereka hujat itu mereka tidak akan mampu melaksanakannya karena sedikitnya ilmu mereka. Dan karena mereka menyibukkan diri untuk mengawasi, dan memburu kejelekan-kejelekan orang lain. Mereka tidak membiarkan yang menyelisihi mereka itu bekerja, dan mereka tidak melaksanakan tugas yang mulia yang diemban oleh orang yang menyelisihi mereka.

Saat kita melihat dan mendengar orang yang mengklaim bahwa mereka termasuk ahlul ‘ilmi, mereka berbicara dan serius dengan mencela dan mencaci saudara-saudara mereka, kita mengingat perkataan syaikhul Islam rahimahullah saat beliau berkata:

“Sesungguhnya sebagian manusia itu seperti lalat, yang tidak hinggap kecuali di atas luka (borok).” Hal ini bermakna bahwa ada sebagian orang yang engkau tidak akan melihatnya kecuali dia senantiasa melupakan kebaikan-kebaikan orang lain, dan menyibukkan diri dengan menyebutkan berbagai keburukan mereka. Orang seperti ini seperti lalat, dia meninggalkan tempat yang sehat dan bersih, hinggap di tempat luka dan kotor. Ini adalah termasuk bagian dari kotoran-kotoran jiwa dan rusaknya adu domba.

Oleh karena itu, manhaj mencela dan mencaci adalah sebuah manhaj yang menyusup ke dalam Islam. Demikian pula mereka menjadikannya atas nama agama. Mereka menyusun hajr dan tahdzir diatasnya. Maka setanpun menghias-hiasi mereka di atas jalan ini, dan mereka menyangka bahwa mereka adalah wali-wali Alloh yang shalih.

Saat anda melihat yang demikian, kita akan tahu mengapa salafusshalih menguasai dunia dan akhirat sementara kita kehilangan dunia atau bahkan bias keduanya? Mengapa mereka jaya dan kita terhina? Mengapa mereka jadi pemimpin dan kita diperbudak?

Aku memohon kepada Alloh, pemilik ‘Arsy yang agung untuk memberikan manfaat kepada kita terhadap apa yang Dia ajarkan kepada kita, dan mengajarkan kepada kita apa yang memberikan manfaat kepada kita. Aamiin

Di kutip dari Majalah Qiblati edisi 6 Thn III, 03-2008 M / 02-1429 H

2 Tanggapan

  1. okeh

  2. aSSALAMUALAIKUM AKH TULISAN ANTUM MENARIK
    ANA BOLEH MINTA IDENTITAS ANTU GAK ANA KUL DI UGM SEMESTER 3 ADD ID ANA YA
    AKH

    Wa’alaikumussalam
    Tafadhol akh,…ana tautkan ya blogs antum,…bagi para pengunjung blogs ini,..ana minta maaf kalo jarang update blogs ini karena kesibukan ana sekarang sehingga ana jarang buka blogs. semoga ana masih nbisa terus men update artikel2 di blogs ini. Barakallahu fiikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: